Cara Membuat Tabulampot Mangga

Cara Membuat Tabulampot Mangga

Urbanina.com – Mangga atau disebut juga Mangifera indica dalam dunia tumbuh-tumbuhan merupakan tanaman yang berasal dari daerah sekitar kaki pegunungan Himalaya (Nepal) dan Bombay (India) lantas menyebar ke seluruh pelosok dunia, tak terkecuali ke Indonesia. Selain tanaman buah, pohon mangga juga bermanfaat sebagai tanaman pelindung karena pohonnya dapat mencapai umur 50 tahun dengan batang berdiameter 100 cm lebih, tajuknya pun dan rindang. Hal yang sangat menyenangkan adalah tanaman mangga ternyata dapat ditanam dalam pot dengan cara membuat tabulampot mangga.

cara membuat tabulampot mangga

Menanam pohon mangga dalam pot atau lebih dikenal dengan istilah tabulampot mangga tidak membutuhkan lahan yang begitu luas hingga sangat cocok untuk daerah perkotaan yang kebanyakan halaman rumah mereka tidak demikian besar. Kelebihan lainnya menanam pohon mangga dengan cara membuat tabulampot mangga ialah ketika memanen buahnya lebih mudah dipetik, tidak demikian dengan pohon mangga yang ditanam di tanah kebanyakan pohon mangganya berukuran tinggi hingga untuk memanennya membutuhkan bantuan tangga.

Tiap-tiap ada kelebihan tentunya terdapat juga kekurangannya. Demikian pula dengan cara membuat tabulampot mangga, kekurangannya adalah minimnya nutrisi yang tersedia dalam tanah di dalam pot itu sendiri sehingga pertumbuhannya sedikit lambat dibandingkan pohon mangga yang ditanam langsung di tanah. Di Indonesia kita mengenal beberapa jenis atau macam mangga seperti mangga simanalagi, madu, gedong, golek, harum manis. Dari jenis genjah ada mangga green Bombay, cengkir, red Brazil, Tanjung Pinang, apel, golek India dan oren,

Untuk dengan cara membuat tabulampot mangga, Anda harus memilih bibit yang berasal dari okulasi, sambung pucuk, rundukan, stek atau cangkok. Jangan menggunakan bibit yang berasal dari tanam biji karena sangat lambat menghasilkan buah dan kualitas buahnya tidak mudah dipastikan. Pilihlah bibit yang berumur sedikitnya satu tahun dan memiliki daun yang segar dan banyak.

Gunakan pot berdiameter paling sedikit 30 cm dan tingginya minimal sekitar 35 cm. Isilah pot tersebut secara berurutan dengan ijuk atau pecahan genteng untuk menahan keluarnya media tanam ketika dilakukan penyiraman atau terjadi hujan dengan tebal sekitar 5 cm. Selanjutnya isi dengan cabang dan daun tanaman yang telah lapuk atau humus. Lapisan berikutnya diisi dengan media tanam berupa campuran humus dan tanah dengan perbandingan yang sama hingga penuh. Kemudian tutup permukaan media tanam dengan jerami setelah penanaman selesai yang bertujuan untuk mengurangi terjadinya penguapan dan menahan tumbuhnya gulma.

Apabila potnya rusak atau ukuran potnya sudah tidak mencukupi lagi perlu dilakukan pergantian, biasanya setiap 4-5 tahun sekali. Jika tidak dilakukan pergantian pot, boleh hanya mengganti media tanamnya saja. Potong media tanam dan akarnya di sekitar pinggir dan bagian bawah kira-kira 5 cm secara pelan-pelan dengan pisau tajam. Lalu kembali tanam dan tambahkan media tanam yang baru. Setiap pemotongan akar mesti disertai dengan pemangkasan daun, bila tak dilakukan umumnya tanaman akan melayukan serta menggugurkan daun-daunnya agar terjadi keseimbangan antara daya serap air dan penguapan air melalui daun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *