Mengenal Lebih Dekat Tentang Peternakan Burung Puyuh

Urbanina.com - Mengenal lebih dekat tentang peternakan burung puyuh akan memberikan pemahaman yang lebih dalam terhadap orang yang akan melakukan usaha peternakan. Orang mungkin sudah banyak yang membicarakan tentang peternakan burung puyuh ini, namun masih sedikit orang yang mampu untuk mempraktekan ilmunya dengan melakukan usaha peternakan. Hal ini salah satunya disebabkan kurangnya pemahaman tentang peternakan burung puyuh ini. Karena selain modal berupa uang atau materi, pemahaman tentang peternakan burung puyuh adalah salah satu modal utama yang harus dimililki seseorang untuk melakukan usaha peternakan burung puyuh ini. Maka dari itu, kali ini Urbanina akan menulis artikel dengan tema pengenalan terhadap peternakan burung puyuh. Semoga, artikel singkat ini dapat membantu orang-orang yang ingin lebih paham dengan ilmu peternakan burung puyuh. tentang peternakan burung puyuh Pertama-tama, kami akan membahas keunggulan yang dimiliki oleh burung puyuh ini, sehingga memiliki potensi untuk diternakkan. Keunggulan yang pertama yang dimiliki burung puyuh adalah terletak di produksi telurnya yang bergizi sekaligus rasanya lezat. Berbagai menu olahan yang memanfaatkan telur puyuh telah banyak disukai masyarakat dan bergizi tinggi. Selain telurnya, burung puyuh juga dapat dimanfaatkan bagian dagingnya. Daging burung puyuh ini juga memiliki rasa yang lezat sekaligus bergizi tinggi. Beberapa warung makan telah mengolah daging puyuh ini menjadi olahan yang cocok untuk temannya nasi. Selain dapat memanfaatkan telur dan daging puyu yang lezat dan bergizi, bulu burung puyuh pun juga dapat dimanfaatkan oleh manusia. Biasanya, bulu burung puyuh ini dimanfaatkan oleh pengrajin sebagai bahan untuk membuat aneka perabot rumah tangga maupun kerajinan yang memiliki nilai jual. Setelah bulunya dapat dimanfaatkan, bagian lain yang dapat dimanfaatkan adalah kotoran burung puyuh ini. Seperti kotoran unggas yang lain, kotoran burung puyuh dapat dimanfaatkan untuk dijadikan pupuk kandang atau kompos. Menurut sejarah, peternakan atau budidaya burung puyuh ini pertama kali dilakukan di negara Amerika Serikat. Budidaya tersebut dilakukan tepatnya pada tahun 1870. Setelah peternakan pertama tersebut, perkembangan terus diupayakan hingga ke penjuru dunia, termasuk ke Indonesia. Di Indonesia, orang mulai mengenal dan memulai peternakan burung puyuh di bulaan akhir pada tahun 1979. Dan hingga saat ini, beberapa provinsi telah menjadi sentra peternakan burung puyuh ini seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sumatera. Habitat asli burung puyuh adalah dengan bersarang di permukaan tanah. Hewan ini memang termasuk jenis hewan yang hidup di daratan. Ukuran tubuhnya kecil, namun gemuk sehingga dadanya nampak berisi daging semua. Dengan ukuran tubuh yang kecil ini, burung puyuh memiliki kemampuan untuk berlari dan terbang dengan kecepatan tinggi, namun pada jarak yang pendek. Sehingga, ketika orang ingin menangkap burung puyuh ini pasti akan kesulitan karena kalah cepat dengan burung ini. Kehidupan burung puyuh di alam bebas adalah dengan berpindah-pindah tempat. Dengan kebiasaan itu, ia memiliki sifat reproduksi yang cukup cepat diman dalam satu tahun, burung puyuh mampu menghasilkan 3-4 generasi. Ketika dewasa, burung ini dapat mencapai bobot seberat 143 gram per ekor, sedangkan bobot telur yang dihasilkan mencapai bobot 10 gram per butir. Burung puyuh ini memiliki nama latin yaitu Coturnix-coturnix Japonica yang juga memiliki sebutan lain yaitu Quail. Dalam Bahasa Jawa, burung puyuh ini leboh populer dengan nama Gemak. Meskipun memiliki beragam nama yang berbeda, namun burung yang dimaksud tetap sama yaitu burung puyuh ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *