Syarat Hidup Lobster Yang Harus Diketahui Pembudidaya

Urbanina.com – Memelihara lobster tidaklah dapat dilakukan tanpa ilmu yang memadahi. Seorang pembudidaya harus memiliki pengetahuan yang cukup agar proses budidaya dapat berlangsung dengan lancar sesuai rencana. Sebagai gambaran, membudidayakan lobster adalah memelihara lobster yang pada dasarnya adalah hewan liar yang sebenarnya hidup di alam liar dengan sendirinya secara alami. Namun, karena hewan liar tersebut berpindah hidup di alam yang dibuat pembudidaya, maka hidup hewan liar tersebut berubah menjadi bergantung pada pembudidaya. Jika pembudiaya dapat memberlakukan lobster dengan benar maka hewan tersebut akan dapat hidup dengan baik, namun akan berbeda jika sebaliknya. Pembudidayaan yang salah akan mengakibatkan kehidupan lobster tidak normal atau bahkan bisa mati. Itulah gambaran kecil dari Urbanina tentang pentingnya bagi pembudidaya untuk memahami syarat hidup lobster yang mereka budidaya.

syarat hidup lobster

Berikut ini adalah beberapa syarat hidup lobster yang dilihat dari kualitas air. Adapun kualitas air ini meliputi 3 hal sebagai berikut.

  1. Suhu / temperatur air

Temperatur air dapat diukur menggunakan alat yang bernama termometer. Suhu yang terkendali menjadi salah satu syarat hidup lobster meskipun lobster memiliki sifat toleran terhadap suhu diatas 35 derajat C. Untuk pemeliharaan di daerah tropis, suhu yang dianjurkan untuk memelihara lobster adalah antara 24-30 derajat C. Sedangkan untuk memperoleh pertumbuhan optimum diperlukan suhu antara 25-29 derajat C.

  1. pH dan kesadahan air

Syarat hidup lobster yang kedua adalah kadar pH dan kesadahan air yang terjaga. Untuk membudidayakan lobster, disarankan untuk menjaga angka pH pada angka 7-9. Hal ini berdasar pada penelitian yang menunjukan bahwa lobster hidup dengan baik di perairan tawar dengan anga pH tersebut. Selain itu, jarang ditemui lobster yang hidup di perairan yang memiliki pH dibawah angka 7. Untuk tingkat kesadahan air, lobster memerlukan kesadahan air yang sedang hingga tinggi. Kesadahan pada tingkat tersebut diteliti dapat menjaga kandungan kalsium terlarut agar tetap tinggi sehingga menjamin pembentukan cangkang lobster setelah terjadinya proses molting.

  1. Kualitas air lainnya

Kualitas air lainnya ini didasarkan dari berbagai laporan penelitian yang dilakukan di berbagai daerah tempat hidup lobster. Salah satunya adalah dari dua hasil penelitian berikut ini. Di Indonesia, dimana lobster ditemukan hidup di perairan air tawaar seperti Danau Klarifiet dan Sungai Ayamoro di Papua, kualitas airnya adalah sebagai berikut; memiliki kandungan oksigen terlarut antara 3-5 ppm, karbondioksida antara 30-44 ppm, pH antara 6,7-7,8, suhu air 18-22 derajat C, kesadahan air 82-112 ppm CaCO3 dan amonia yang terkandung kurang dari 1,2 ppm.

Sedangkan penelitian di Australia dilakukan di perairan seperti rawa, danau atau sungai dengan hasil sebagai berikut; memiliki kandungan oksigen terlarut antara 3-5 ppm, karbondioksida antara 50-60 ppm, pH 6,5-8,5, suhu air 24-30 derajat C, kesadahan air 100-120 ppm CaCO3 dan amonia sebanyak 0,2 ppm. Dan penelitian tersebut menunjukan bahwa lobster air tawar cukup sensitif terhadap kadar klorin tinggi. Dengan begitu, disarankan agar mengendapkan air terlebih dahulu sebelum menggunakan air tersebut untuk memelihara lobster.

Lobster juga diteliti memiliki kemampuan untuk mengakumulasikan merkuri (Hg) dalam tubuhnya, sehingga hewan air tawar ini sering dijadikan indikator pencemaran lingkungan. Dan, lobster juga sensitif terhadap pestisida, terutama golongan organoklorin, begitu pula terhadap residu-residu minyak. Dari sifat lobster tersebut, pembudidaya tentu harus memperhatikan sumber air yang digunakan untuk membudidayakan lobster ini, terutama pada pembudidayaan di tempat terbuka. Dengna kata lain, kebersihan air juga perlu diperhatikan untuk membudidayakan lobster.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *