Memahami Proses Molting Pada Lobster Yang Dibudidaya

Memahami Proses Molting Pada Lobster Yang Dibudidaya

Urbanina.com – Proses molting adalah nama lain dari proses ganti kulit pada makhluk hidup. Yang paling populer di masyarakat, proses molting atau ganti kulit ini terjadi pada hewan reptil yaitu ular. Terkadang orang menemukan kulit lama ular yang dilepaskannya di tempat tertentu. Biasanya ular melepaskan kulit lamanya dengan menghimpitkan tubuhnya diantara dua bongkah batu agar kulit lamanya lepas dan berganti dengan kulit yang baru. Namun, proses ganti kulit ini juga terjadi pada hewan lainnya termasuk lobster. Proses molting pada lobster ini juga bertujuan agar lobster mendapatkan kulit barunya. Lobster yang hidup di alam liar telah memiliki lingkungan yang mendukung proses molting yang dialaminya, namun ketika lobster tersebut dibudidaya, pembudidayalah yang harus mendukung proses molting pada lobster dengan prosedur yang telah ditentukan.

proses molting pada lobster

Salah satu upaya dari pembudidaya dalam mendukung proses molting pada lobster ini adalah dengan meletakkan shelter, batu kapur dan peralatan lengkap lainnya di aquarium tempat tinggal lobster. Salah satu fungsi shelter bagi lobster adalah untuk tempat terjadinya proses ganti kulit yang dialaminya. Dan salah satu fungsi dari batu kapur adalah untuk menjaga kandungn kalsium pada air sehingga mampu mendukung proses pembentukan cangkang setelah proses molting selesai. Sebagai pembudidaya, tentu akan lebih baik jika memahami proses molting pada lobster yang dibudidaya. Ia akan lebih mudah dalam mengenali tingkah laku hewan peliharaannya tersebut. lalu, apa saja yang perlu diketahui tentang proses molting pada lobster ini?

Harus diketahi bahwa proses molting merupakan salah tahap kehidupan lobster yang banyak menyebabkan kematian. Wacana ini didapat dari pengalaman di masa lalu dari yang sudah pernah melihat bagaimana proses molting banyak menyebabkan kematian lobster. Setelah diteliti, kematian yang terjadi adalah disebabkan oleh kegagalan lobster untuk melakukan proses ganti kulit. Kegagalan tersebut disebabkan oleh dua jenis hormon yang muncul pada saat molting yaitu hormon Ecdysis sebagai pemicu proses molting, dan hormon Molt Inhibiting Hormone sebagai hormon yang dapat menghambat prosesmolting iitu sendiri. Dan bila lobster gagal melakukan proses ganti kulit, maka dia akan mati.

Ciri-ciri terjadinya proses ganti kulit pada lobster dapat diketahui dengan mengenali perubahan yang dialami lobster air tawar yang dipelihara sebagai berikut. Pertama, lobster yang sedang mengalami proses molting akan cenderung berdiam diri di tempat persembunyian. Dengan banyak berdiam diri, lobster akan terlihat kurang aktif dalam bergerak. Kalaupun aktif bergerak, hanya dapat bergerak secara lamban dan terlihat seperti lobster akan mati. Kedua, dilihat dari warna kulitnya, lobster yang sedang mengalami proses molting akan cenderung berwarna keruh atau gelap. Dan yang ketiga, kelopak kepala lobster atau yang disebut rostrum akan terlihat membengkang. Rostrum tersebut terlihat membengkang karena terbuka pada saat mengalami proses molting.

Proses ganti kulit ini memilii empat tahap yang dipelajari secara biologis. Keempat tahap ini diawali dengan tahapan yang pertama yang bernama Proecdysis. Lobster bersiap untuk melakukan molting yang ditandai dengan mulai berhenti makan. Tahapan yang kedua disebut Ecdysis, yang ditandai dengan pelepasan diri dari kerangka lama sehingga kulitnya masih lembut dan lunak. Tahapan yang ketiga adalah Metecdysis, yang mana terjadi proses pemindahan mineral kalsium dari gastrolith ke kutikel barunya. Dan tahapan yang terakhir adalah Intermolt, yang mana terjadi proses molting yang hampir selesai. Yaitu, kerangka dan jaringan baru telah mulai jadi dan dapat digunakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *