Habitat Asli Belut Sebagai Acuan Kolam Budidaya Belut

Habitat Asli Belut Sebagai Acuan Kolam Budidaya Belut

Urbanina.com – Ikan Belut merupakan salah satu hewan yang dapat dibudidayakn karena tidak sedikit konsumen belut yang menyebar di Indonesia. Tak hanya di Indonesia, di luar negeri seperti Jepang, Taiwan, Hongkong maupun Malaysia, ikan yang memiliki tubuh panjang ini banyak dibudidayakan. Negara-negara tersebut telah dikenal sebagai negara yang menjadi sentra perikanan belut ini. Di benua eropa, yang menjadi sentra perikanan belut adalah negara Perancis. Belut yang dibudidayakan tentu akan hidup di kolam pemeliharaan, bukan di habitata aslinya. Habitat asli belut ini adalah di perairan alami seperti sungai, danau alami, sawah dan juga rawa.

habitat asli belut

Habitat asli belut ini rupanya memegang peran penting dalam upaya pembudidayaan ikan belut. Mengapa? Karena ikan belut adalah hewan air yang tentunya hanya dapat hidup dengan normal di habitat yang memiliki kualitas air yang sama denga air di habitat asli belut ini. Dengan begitu, pembudidaya dapat menyiapkan tempat hidup belut yang dibudidayanya agar sesuai dengan habitat asli ikan belut seperti sungai, sawah, ataupun rawa. Jika kolam atau tempat peemeliharaan belut tidak sesuai dengan habitat aslinya, maka bukan tidak mungkin pertumbuhan belut akan terhambat sehingga tumbuh dengan tidak normal.

Dengan berpedoman pada habitat asli belut, kolam budidaya ikan belut dapat dikondisikan agar dapat menyamai kualitas habitat asli ikan belut ini. Adapun beberapa kondisi yang dapat diupayakan agar belut yang dibudidaya dapat tumbuh normal seperti ketika hidup di habitat aslinya. Berikut ini 4 hal yang dapat dikondisikan pada kolam budidaya.

Pertama, kolam budidaya dapat diukur melalui metode klimatologis. Adapun sebuah hasil penelitian yang menyebutkan bahwa ikan belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik. Oleh karena hukum geograffis diatas, kolam budidaya ikan belut dapat dibangun di tanah dengan ketinggian berapa saja, baik itu dataran tinggi ataupun dataran rendah. Dan hukum yang menyangkut iklim habitat belut yang tidak spesifik, bahwa kolam tidak memerlukan pengondisian kelembaban ataupun curah hujan. Dapat juga dikatakan bahwa belut dapat hidup di kolam dengan segala kondisi kelembaban kolam.

Kedua, kualitas air kolam harus disetarakan dengan kualitas habitat asli ikan belut ini. Ikan belut yang hidup di habitat aslinya, mendapatkan kualitas yang bersih dan tidak tercampuri limbah yang memiliki racun. Sehingga, akan sulit sekali ditemukan belut di sungai yang sudah tercemar limbah pabrik yang beracun. Oleh karena itu, kualitas air kolam belut harus memilik beberapa kriteria berikut ini agar dapat menumbuhkan belut dengan baik. Yaitu, air yang bersih, tidak terlalu keruh, dan tidak tercemar zat kimia beracun. Mungkin saja dasar kolam dapat mempengaruhi kualitas air, sehingga pembudidaya diharapkan dapat memastikan bahwa dasar kolam belut mereka adalah aman dari zat-zat kimia beracun.

Ketiga, meskipun kelembaban kolam tidak terlalu spesifik namun pertumbuhan yang opimal memerlukan kondisi suhu yang optimal juga. Menurut penelitian, suhu yang dapat mengoptimalkan pertumbuhan belut adalah suhu yagn berkisar antara 25-30% derajat C.

Keempat, memicu pada prinsip air yang baik untuk pertumbuhan. Bahwa air yang baik untuk pertumbuhan ikan belut adalah air yang bersih dan memiliki banyak kandungan oksigen. Hal ini diutamakan untuk benih belut yang masih kecil dengan ukuran 1-2 cm. Sehingga, air kolam harus diperhatikan untuk benih ikan belut ini. Namun, ketika sudah menjadi belut dewasa, belut akan tetap dapat hidup di air yang keruh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *