Cara Penanganan Ikan Segar Untuk Konsumsi

Cara Penanganan Ikan Segar Untuk Konsumsi

Urbanina.com – Orang sudah mengetahui, ikan merupakan salah satu makanan yang mengandung protein hewani yang tinggi. Dari segi kandungan gizi, ikan merupakan salah satu makanan yang terbaik, malah lebih baik dari daging lainnya. Hanya saja ikan ini mudah sekah rusak bila telah mati. Kerusakan ini disebabkan oleh kegiatan jasad renik yang menghasilkan lendir. Ikan yang rusak dicirikan oleh bau busuk, kaku, sorot mata yang loyo, warna insang yang kelabu dan lengket serta berlendir. Kalau sudah seperti ini, kitapun akan hilang selera untuk memakannya. Yang membangkitkan selera ialah ikan segar bukan yang busuk. Karena itulah kita perlu mempertahankan kesegaran ini, sebelum siap untuk diolah. Lalu, bagaimana cara penanganan ikan segar untuk konsumsi tersebut?

Agar ikan tetap segar, ada dua cara penanganan ikan segar untuk konsumsi yang dapat kita lakukan. Pertama dengan mempertahankan ikan itu tetap hidup selama pengangkutan. Kedua, mempertahankan kesegaran ikan dalam keadaan mati sekalipun. Cara penanganan ikan segar yang pertama ini, memerlukan tempat khusus agar kandungan oksigen dalam air cukup tinggi dan perlu diperhatikan keadaan kualitas airnya seperti suhu dan sebagainya. Bagi ikan laut yang setelah ditangkap pada umumnya segera mati cara ini tidak bisa kita lakukan. Kalaupun kita lakukan, sewaktu ditangkap kemudian dipertahankan agar tidak mati tentulah tidak efisien dan praktis. Lain halnya bagi ikan air tawar.

Cara Penanganan Ikan Segar Untuk Konsumsi []

Mempertahankan kesegaran ikan dalam keadaan mati, bertujuan memperpanjang daya simpan, tidak mudah rusak dan tetap bernilai gizi tinggi. Caranya ialah dengan mencegah atau menghambat penyebab kerusakan dan reaksi kimia yang terjadi. Kita bisa melakukannya dengan merendahkan suhu, pengeringan, penggaraman, pengasapan dan pengalengan.

Penggunaan suhu rendah, umumnya sudah dilakukan oleh nelayan kita, yaitu dengan menggunakan es. Cara ini memang dapat memperpanjang daya simpan tetapi tidak lama (1-2 hari). Sebabnya, pada suhu 0°C, mikroba yang aktif pada ikan masih mampu untuk hidup dan aktif. Cara yang lebih modern lagi ialah dengan menggunakan freezer atau penyimpanan di cold storage. Dengan cara ini suhu penyimpanan dapat diatur hingga mencapai minus 18°C atau lebih.

Perlu diingat, pembekuan atau penggunaan suhu rendah ini harus didahului dengan membersihkan ikan, menghilangkan kulit atau sisiknya dan juga isi perutnya. Cara ini tidak cocok untuk ikan-ikan yang mempunyai tekstur lunak, karena kristal es yang terbentuk akan merusak tekstur ikan yang bersangkutan. Pada waktu akan dikonsumsi suhu ikan akan naik sampai sama dengan suhu kamar. Naiknya suhu ikan membuat kristal es yang terbentuk mencair dan ikan menjadi lunak atau lembek.

Pengeringan merupakan usaha menghilangkan sebagian kandungan air sampai kadar air tertentu yang dapat menghambat kegiatan mikroba dan reaksi kimia yang tidak dikehendaki. Cara yang mudah dan murah ialah dengan menggunakan sinar matahari. Biasanya proses ini dikombinasikan dengan cara penggaraman.

Penggaraman juga merupakan salah satu usaha mengawetkan ikan. Tentu saja yang dimaksud di sini bukan hanya garam, tetapi juga bahan pengawet lainnya seperti natrium nitrit, natrium nitrat, gula dan marinading (penggunaan asam cuka untuk mengawetkan ikan). Dalam penggaraman, banyaknya garam tergantung pada ukuran ikan, suhu perlakuan dan kadar garam yang dikehendaki. Kemurnian garam akan mempengaruhi mutu ikan awetan. Gunakanlah garam yang berwarna putih bersih, karena garam yang demikian mendekati kemurnian (NaCl 99%).

Cara pengawetan lainnya yaitu pengalengan. Ada beberapa macam hasil pengalengan ikan ini antara lain berupa produk asli, ikan dalam minyak tumbuh-tumbuhan, dicampur sayur, saus tomat dan ikan pasta. Dalam proses pengalengan ini yang perlu diperhatikan ialah derajat sterilisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *