Panduan Pengomposan Yang Harus Dipatuhi

Panduan Pengomposan Yang Harus Dipatuhi

Urbanina.com – Pupuk kompos merupakan salah satu pupuk yang mulai disukai masyarakat untuk memperbaiki kualitas lahan yang menurun tingkat kesuburannya. Seperti yang diketahui bersama, bahwa penggunaan pupuk kimia yang berlebihan akan berdampak buruk untuk kesuburan tanah. Maka, munculah pupuk organik atau juga pupuk kompos yang menjadi solusi untuk menyuburkan tanah kembali. Untuk mendapatkan pupuk kompos ini, perlu dilakukan pengomposan atau pembuatan pupuk kompos. Dan proses ini tidaklah sembarangan dalam melakukannya. Karena, dikhawatirkan akan mempengaruhi kualitas pupuk kompos yang jadi nantinya. Dan kali ini, akan dibahas mengenai 4 panduan pengomposan yang harus dipatuhi agar dapat menghasilkan hasil yaitu berupa pupuk kompos yang berkualitas baik.

panduan pengomposan

  1. Mengkondisikan kadar air

Pupuk kompos pada dasarnya adalah bahan organik yang di fermentasikan sehingga menghasilkan nutrisi untuk tumbuhan pada akhirnya. Pupuk kompos yang baik memiliki kadar air yang cukup sehingga memberi kualitas yang baik terhadap tanaman dan ramah terhadap tanah. Sehingga, pada panduan pengomposan yang pertama adalah agar menjaga kadar air pada pupuk kompos yang seseuai agar hasilnya juga baik.

Kadar air yang baik untuk proses pengomposan adalah 60 %. Panduan pengomposan ini harus ditaati. Karena, jika kadar air kurang dari 60 %, yang terjadi adalah bakteri tidak akan berfungsi. Namun bila kadar air lebih dari 60 %, maka akan menyebabkan kondisi anaerob. Untuk mengetahui kadar airnya 60 %, apabila pupuk diremas, akan terasa basah namun tidak sampai meneteskan air.

  1. Tidak meremehkan proses aerasi

Panduan pengomposan yang harus dipatuhi yang kedua adalah proses aerasi. Proses aerasi pada intinya adalah proses menyalurkan udara/oksigen kedalam selama pengomposan. Pada tumpukan yang akan menjadi pupuk kompos nantinya, harus tersedia cukup oksigen, terutama pada dekomposisi aerob. Apabila kebutuhan oksigen yang dimaksud tidak memadahi, maka akibatnya bisa buruk untuk hasil yang akan didapat nantinya. Karena, bila kekurangan oksigen, maka proses dekomposisi bisa terhenti. Oleh karena itu, tumpukan kompos tersebut harus dibalik secara teratur demi mendapat oksigen yang diperlukan. Disarankan agar membalik tumpukan minimal seminggu sekali.

  1. Menjaga suhu atau temperatur

Suhu atau yang dinamakan temperatur pada proses pengomposan harus diperhatikan demi mendapat hasil pupuk yang berkualitas baik. sebenarnya, dengan mematuhi panduan ini tak hanya akan membuat hasil pupuk kualitas baik, namun, juga dapat memperlancar proses pengomposan itu sendiri. Ketika membuat pupuknya lancar dan kualitasnya baik, tentu akan menjadi kepuasan tersendiri.

Untuk temperatur yang harus dipertahankan pada proses pengomposan adalah 60° C. Angka yang cukup unik mengingat kadar air yang harus dipertahankan juga memiliki angka 60, yaitu 60 %. Suhu 60° C dalam waktu 3 minggu selama proses dekomposisi akan mengoptimalkan kerja bakteri dalam menurunkan kadar rasio C/N. Dengan begitu, proses penurunan rasio C/N yang sempurna akan memberantas bakteri panthogen hingga biji gulma.

  1. Menjaga pH

Dalam proses pengomposan, pH juga menjadi salah satu yang menarik perhatian produsen. Selain menjadi yangmenarik perhatian, pH sebenarnya memanga dapat mempengaruhi proses pengomposan itu sendiri. Sehingga, pH menjadi hal yang harus dijaga agar pengomposan berjalan lancar.

Ukuran pH yang baik untuk kompos adalah netral, kisaran angka 6,5-7,5. pH yang baik akan mempengaruhi aktivitas yang dan kinerja dari mikroorganisme yang dibutuhkan kompos. Ada sebuah cara untuk menaikkan pH, yaitu dengan menambahkan kapur secukupnnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *