Faktor Kunci Dalam Pembuatan Pupuk Kompos

Faktor Kunci Dalam Pembuatan Pupuk Kompos

Urbanina.com – Setiap melakukan sesuatu, selain memiliki kemungkinan untuk berhasil juga, juga memiliki kemungkinan untuk gagal. Hal ini juga terjadi ketika proses pembuatan pupuk kompos. Meskipun terlihat hanya menmanfaatkan bahan alami dalam membuat kompos, namun sebenarnya manusia juga memiliki peran tersendiri agar pupuk kompos yang nanti dihasilkan adalah pupuk kompos yang berkualitas. Jangan sampai seorang produsen telah mengeluarkan banyak tenaga dan uang demi menghasilkan hasil pupuk yang berkualitas, tetapi malah berakhir dengan kualitas pupuk yang buruk dan tidak layak pakai apalagi layak jual. Maka dari itu, dalam proses pembuatan pupuk kompos terdapat beberapa faktor kunci yang dapat mempengaruhi hasil akhir pupuk kompos nantinya.

faktor kunci

Untuk mendapatkan hasil yang baik ketika nantinya pupuk kompos ini jadi, faktor kunci yang berpengaruh adalah saat memilih bahan baku untuk dijadikan pupuk kompos. Bahan baku dari pupuk kompos sangat banyak, yaitu semua bahan yang bersifat organik. Bisa dari sisa kotoran hewan, dedaunan, ranting tumbuhan dan lain-lain. Semua bahan tersebut nantinya akan diproses agar memiliki kuaitas yang baik sehingga mampu menjadi nutrisi bagi tanaman nantinya. Dan prosese yang dilakukan adalah dengan mengontrol rasio C/N yang terkandung pada bahan baku agar memiliki rasio 10 – 12. Nah, untuk mendapat bahan baku yang menjadi faktor kunci kualitas pupuk kompos ini dapat menggunakan setidaknya dua parameter berikut ini.

  1. Pertimbangkan kelembapan bahan baku

Bahan baku yang menjadi faktor kunci harus dipertimbangkan kadar kelembabannya sebelum memulai pengomposan. Kelembapan bahan baku dapat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup mikroorganisme didalamnya. Kelangsungan hidup mikroorganisme tergantung pada tingkat kelembaban bahan baku tersebut. Organisme akan mati jika kelembaban tidak mencukupi. Apabila tingkat kelembaban dibawah 40 %, maka proses dekomposisi akan menjadi lambat. Dan bila sampai menyentuh angka kelembaban 30 %, maka proses dekomposisi akan terhenti. Di angka lain, jika kelembaban berkisar di angka > 60 %, maka akan terjadi proses anaerob, yang mana proses ini akan dapat menimbulkan bau yang tak sedap(masam). Sehingga, proses pengomposan yang ideal adalah dengan menggunakan bahan baku yang kelembabannya berkisar antara 50 – 60 %. Sehingga, dengan begitu proses pengomposan akan berjalan dengan lancar.

  1. Pertimbangkan rasio C/N bahan baku

Untuk dapat terjadi pengomposan yang baik, maka diperlukan penaruh dari zat-zat yang terkandung pada bahan bakunya. Dan salah satu bahan yang dapat dihitung memiliki pengaruh adalah kadar Carbon (C) dan Nitrogen (N). Carbon berfungsi sebagai sumber energi bagi mikroba yang hidup, sedangkan Nitrogen merupakan unsur yang menyusun protein. Nitrogen juga berperan untuk mempercepat pertumbuhan bakteri yang akan mengurai bahan baku nantinya. Sendainya jumlah Nitrogen ini terlalu sedikit, maka proses dekomposisi akan melambat karena kekurangn bakteri. Namun, jika jumlah Nitrogen yang terkandung terlalu banyak, akan dapat mempercepat pertumbuhan mikroba yang mengakibatkan masalah pada aroma kompos. Nitrogen juga akan hilang dikarenakan bereaksi dan menguap menjadi gas amoniak.

Untuk itu, untuk mendapat komposisi kompos yang baik, diperlukan kejelian dalam menentukan rasio C/N ini. Rasio berat C dan N yang seimbang adalah dengan mencampurkan bahan pada rasio C/N adalah 30 : 1. Ukuran itu akan membuat proses menuju rasio C/N sebesar 10 – 12 berjalan lebih stabil. Dan jangan lupa untuk juga tetap menjaga angka kelembaban seperti pada parameter yang pertama dan jangan hanya terfokus untuk menghitung perbandikan C/N saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *