Fertigasi Dengan Pupuk Padat Pada Sistem Hidroponik

Urbanina.com – Fertigasi adalah singkatan dari fertilisasi (pemupukan) dan irigasi (pengairan). Sistem fertigasi merupakan satu diantara begitu banyak teknik hidroponik. Fertigasi merupakan metode penerapan unsur hara dari pupuk lewat sistem irigasi. Lalu bagaimana cara fertigasi dengan pupuk padat untuk memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman?

Dalam teknik fertigasi budget tenaga kerja untuk pemupukan bisa diminimalisir sebab pupuk diberikan berbarengan dengan saatnya penyiraman. Keuntungan yang lainnya dari metode ini yaitu penambahan efisiensi pemakaian unsur hara dikarenakan pupuk diberikan dalam jumlah sedikit namun terus-menerus dan memperkecil kehilangan unsur hara, terutama nitrogen lantaran  denitrifikasi (nitrogen berubah menjadi gas) dan pencucian.

Fertigasi dengan Pupuk Padat

Dalam pertumbuhan tanaman sedikitnya ada 16 unsur yang diperlukannya, seperti oksigen, hidrogen, dan karbon. Ketiganya bisa didapat secara gratis dari lingkungan sekitar, tetapi sisanya mesti dipasok dari luar. Adapun beberapa unsur hara yang disuplai melalui teknik fertigasi antara lain zat besi, zinc (seng), sulfur, kalium, posfor, dan nitrogen.

Dalam fertigasi dengan pupuk padat kita mengairi tanaman sekaligus juga memupuk tanaman tersebut. Pengairan bisa dilakukan dengan cara sederhana yaitu saluran air yang dialirkan ke lahan atau irigasi sistem modern dengan memakai tangki bertekanan. Pupuk yang kita gunakan bisa berbentuk pupuk cairan atau pupuk padat. Bila fertigasi dengan pupuk padat biasanya pupuk tersebut dilarutkan dalam air terlebih dulu. Pupuk yang seringkali dipergunakan yakni KCl, asam fosfat, dan ammonia. Teknik ini umumnya diaplikasikan untuk bisnis komersial, khususnya di wilayah perbukitan atau padang pasir.

Adapun komponen atau alat-alat yang dipergunakan dalam sistem fertigasi ini adalah digital timer, selang besar dan kecil, talang air (PVC), dripper, pompa air, tong stok air nutrisi, tangki air, serta alat-alat irigasi yang lainnya.

Dalam sistem fertigasi dengan pupuk padat, unsur hara (nutrisi) yang diberikan kira-kira 3-6 kali dalam 1 hari selama 5-10 menit, berdasarkan pada umur tanaman dan lamanya penyinaran sinar matahari.

Ukuran luas dari tempat yang akan dijadikan untuk tempat budidaya hidroponik dengan sistem fertigasi ini fleksibel dan bisa diselaraskan sesuai ketersediaan lahan yang ada dan modal, bisa dilakukan di lahan terbuka maupun dalam greenhouse.

Irigasi pada sistem fertigasi dijalankan dengan mempergunakan energi listrik, namun tidak usah dinyalakan dengan cara terus-terusan sebab pada sistem ini kita bisa mengandalkan timer (pengatur waktu) guna mengatur volume dan frekuensi pemberian larutan nutrisi (unsur hara) pada tanaman. Pemberian (suplai) irigasi diatur sebaik mungkin supaya media tanam mempunyai kelembaban sekitar 70%.

Kondisi tersebut bisa ditandai dengan ciri-ciri ketika media tanam dipegang rasanya basah namun air tidaklah menetes dan bila diremas maka gumpalan media tanam akan retak merekah. Dengan kondisi media tanam yang lembabnya kira-kira 70% sehingga akar bisa dengan mudahnya menyerap air dan unsur hara serta aerasi selalu terpelihara lantaran udara masih bisa melakukan sirkulasi diantara ruang kosong antar media hidroponik.

Sistem fertigasi cocok sekali untuk tanaman sayur berbuah, seperti stroberi, cilli sayur, melon, terong, cilli merah, timun, tomat dan bahkan tanaman hias. Biasanya tanaman yang dikembangkan dengan sistem ini untuk tanaman yang memiliki nilai tinggi di pasaran.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *