Apa Yang Menjadi Inti Budidaya Ikan Lele ?

Apa Yang Menjadi Inti Budidaya Ikan Lele ?

Urbanina.com – Ikan lele terus mengalami peningkatan permintaan seiringa dengan kegemaran masyarakat mengkonsumsi daging ikan yang memiliki patil ini. Hal ini tentu menciptakan adanya peluang usaha untuk membudidayakan ikan lele. Hal ini yang juga menjadi landasan bagi pendahulu pengusaha budidaya ikan lele ini. Semakin banyak permintaan ikan lele, maka semakin besar peluang untuk mendapatkan keuntungan finansial dari budidaya ikan lele ini. Seorang pemula yang belum pernah sekalipun menggeluti budidaya ini pun juga dapat memanfaatkan peluang yang terbuka lebar ini. Namun, bagi pemula harus mengetahui apa inti budidaya ikan lele agar dapat melakukan budidaya dengan mudah.

inti budidaya ikan lele

Yang menjadi inti budidaya ikan lele adalah terdiri dari dua hal, yaitu usaha pembenihan dan usaha pembesaran. Ketika seorang pemula mengerti tentang dua hal yang menjadi inti budidaya ikan lele tersebut, maka dia tidak akan kebingungan dala menjalani usaha yang digelutinya. Usaha pembenihan adalah budidaya ikan lele yang dilakukan agar lele dapat menghasilkan benih baru. Sedangkan usaha pembesaran adalah usaha budidaya yang dimaksudkan agar mendapatkan ikan lele yang berbobot sehingga laku di pasaran. Tentu saja dua hal ini adalah proses usaha yang dilakukan berkesinambungan.

Dalam melakukan budidaya ikan lele, sangat disarankan untuk melakukan kedua inti budidaya ikan lele tersebut. Salah satu yang mendasari adalah jika dapat meakukan kedua inti budidaya ikan lele yaitu pembenihan dan pembesaran, maka akan didapatkan keuntungan yang lebih besar jika dibandingkan dengan melakukan salah satu usaha saja.

Dalam melakukan usaha pembenihan, dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan ini. Yaitu memijahkan induk-induk ikan agar mampu untuk menghasilkan dan menetaskan telur, dan juga mampu memelihara buraya menjadi benih ikan lele yang siap sebar. Budidaya ini tergolong mengasyikan dan banyak digemari oleh para pendahulu pembudidaya ikan lele.

Untuk benih yang siap tebar ini memiliki ukuran tersendiri yaitu berukuran gelondongan. Ukuran gelondongan pada benih ini sendiri dibagi menjadi dua yaitu gelondongan kecil dan gelondongan besar. Gelondongan kecil berukuran 3-5 cm, sedangkan gelondongan besar berukuran 5-10 cm. Setelah benih memiliki ukuran gelondongan ini, berarti benih tersebut telah siap untuk ditesar dan dibesarkan agar dapat tumbuh dengan daging yang lebih banyak sehingga laku di pasaran dan layak dikonsumsi.

Inti yang kedua yaitu usaha pembesaran ikan lele. Untuk melakukan usaha ini, tentu dapat dilakukan dengan lebih mudah lagi karena telah melewati tahapan pembenihan tadi. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah dengan membesarkan benih ikan lele yang telah dipersiapkan agar dapat memiliki bobot yang diinginkan pasar. Dalam melakukan usaha pembesaran ini, tentu dilakukan ditempat yang terpisah dari usah pembenihan karena tujuannya berbeda dengan usaha pembenihan.

Adapun bobot yang menjadi bobot minimal dari permintaan pasar yaitu 100–200 gram per ekor. Ketika sudah mencapai bobot minimal permintaan pasar, maka proses pembesaran telah selesai dan sudah dapat dijual di pasar. Dengan bobot minimal ini sudah menjadi ikan lele yang layak untuk dikonsumsi. Namun, ketika jumlah permintaan ikan lele ini meningkat, sering kali ikan lele yang baru berbobot 50 gram sudah dibeli oleh konsumen.

Setelah mengetahui inti dari budidaya ikan lele ini, tentu bagi pembaca yang msih seorang pemula tidak perlu ragu lagi untuk mencoba melakukan budidaya ikan lele ini. Tidak ada kerumitan yang berarti ketika sudah menmahami inti dari budidaya ikan lele ini.

Sejarah Perkembangan Bisnis Ikan Lele Di Indonesia

Sejarah Perkembangan Bisnis Ikan Lele Di Indonesia

Urbanina.com – Ikan lele merupakan salah satu ikan yang memiliki daging dengan citarasa yang banyak digemari oleh masyarakat. Di tahun 2016 ini, ide untuk membudidayakan ikan lele untuk menyuplai masyarakat pecinta kelezatan daging ikan lele ini sudah banyak dilakukan oleh sebagian orang. Selain untuk menyediakan pasokan daging ikan lele, pembudidaya ikan lele akan dapat memperoleh keuntungan hasil dari penjualan ikan lele yang mereka budidaya. Kemudian, apakan di masa lalu bisnis semacam ini sudah ada? Bagaimana perkembangan bisnis ikan lele dimasa lalu? Semua itu akan dibahas Urbanina di paragraf berikutnya.

perkembangan bisnis ikan lele

10 tahun yang lalu, tepatnya ditahun 2006 ada sebuah lembaga yang mencatat statistik mengenai perkemabngan bisnis ikan lele ini. Sejarah perkembangan bisnis ikanlele setidaknya dapat dimulai dengan melihat keadaan pasar di tahun tersebut. Adalah “Warta Pasar Ikan” yang mengeluarkan data statistik bahwa ditahun tersebut telah terdapat 5.000 orang anggota pengusaha warung tenda pecel lele yang tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Tak hanya itu, data yang dikeluarkan lembaga tersebut juga mengenai kebutuhan daging ikan lele yang mencapai 40 ton per hari.

Dulu, orang hanya membudidaya ikan lele sebagai pekerjaan sampingan saja. Ikan lele yang mereka pelihara ditempatkan di kolam pekarangan rumah agar dapat sebagai hewan yang memakan sisa-sisa makanan atau limbah rumah tangga saja. Kita tahu, bahwa ikan lele merupakan ikan yang dapat hidup di lingkungan air kotor akibat limbah rumah tangga ini. Lele yang dipelihara dengan pakan sisa makanan rumah tangga ini tentu tidak dapat tumbuh dengan pesat, tetapi daging yang dihasilkan tetap dimanfaatkan untuk kebutuhan makan.

Perkembangan bisnis ikan lele mulai dilakukan setelah banyaknya permintaan ikan lele di pasaran. Banyak orang yang melihat peluang usaha ini yang kemudian beranjak untuk memelihara ikan lele untuk dibudidayakan dan dibisniskan. Dengan begitu, keuntungan finansial pun dapat diperoleh. Setelah ada satu orang yang memulai usaha dan untung, maka orang yang mendengar berita ini pun banyak yang kemudian tertarik untuk ikut melakukan budidaya agar dapat mendapatkan keuntungan finansial juga. Namun, tidak semua orang yang melakukan bisnis ini berhasil dalam usahanya. Salah satu penyebabnya adalah karena kurangnya strategi dalam pemasaran, sehingga tidak sedikit pembudidaya ikan lele yang rugi waktu itu.

Meskipun banyak yang mengalami kerugian, tetapi perkembangan bisnis ikan lele ini tidak semakin menurun, justru semakin meningkat. Hal ini dikarenakan perkembangan bisnis ikan lele pada waktu itu didukung oleh riset yang dilakukan oleh lembaga terkait. Salah satu lembaga ygn ikut berperan adalah Balai Riset Perikanan Budidaya Ikan Air Tawar (BRPBAT) yang bertempat di Bogor. Lembaga tersebut telah banyak melakukan riset mengenai ikan lele yang telah dimulai sejak tahun 1978.

Adapun riset yang dilakukan oleh BRPBAT ini tentu agar perkembangan bisis ikan lele ini dapat melaju cepat. Adapun beberapa aspek yang dilakukan riset diantaranya riset dalam aspek budidaya untuk induk ikan lele, benih, pakan, lingkungan dan penyakit ikan lele. Riset ini tentu dilakukan dari satu bidang menuju bidang yang lain, sehingga membutuhkan banyak waktu. Dan pada tahun 1995, ikan lele telah dianggap sebagai komoditas budidaya umum sehingga riset yang dilakukan sudah terbatas. Dan jika dibandingkan dengan tahun tersebut, bisnis ikan lele yang dilakukan akhir-akhir ini tentu memiliki kesamaan prinsip meskipun teknologi yang digunakan sedikit lebih maju.

Membuat Ransum Ikan Lele Yang Baik Untuk Pertumbuhan

Membuat Ransum Ikan Lele Yang Baik Untuk Pertumbuhan

Urbanina.com – Membuat ransum ikan lele tentu tidaklah sesuatu yang sederhana. Namun, sebenarnya membuat ransum pakan lele bukanlah hal yang tidak mungkin dilakukan. Jika seorang pembudidaya ikan lele yang memberi ransum lele mereka dari pabrik (membeli), maka itu adalah hal yang tepat karena kandungan gizi yang terkandung didalamnyamerupakan kandungan yang dibutuhkan oleh ikan agar bertumbuh baik. Namun, jika membuat ransum ikan lele dapat dilakukan dan harganya lebih murah dari pada ransum buatan pabrik, mengapa tidak dicoba?

membuat ransum ikan lele

Kali ini Urbanina akan membahas tentan g bagaimana membaut ransum ikan lele ini. Bagi yang belum pernah melakukan tentu kegiatan ini terlihat rumit. Namun, jika sudah dipelajari dengan benar, maka kegiatan ini akan terlihat lebih sederhana dan lebih mudah tentunya. Ketika membuat ransum paka ikan lele, maka hal yang harus diperhatikan adalah untuk memenuhi gizi kepada lele yang dipelihara. Adapun gizi yang dibutuhkan ikan lele sudah tercantum pada label ransum ikan lele yang dibeli buatan pabrik ini. Secara keseluruhan, pakan ikan lele mengandung karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Lalu, dari mana kita bisa mendapatkan bahan pembuat ransum yang memiliki kandungan gizi yang dibutuhkan ikan diatas?

Pertama adalah karbohirat, dapat ditemukan pada dedak halus dan tepung jagung atau tepung sagu. Dedak halus ini nama lainnya adalah bekatul. Dapat ditemui hampir diseluruh tempat penggilingan padi. Kalau tepung jagung biasanya hjarganya masih lumayan mahal jadi dapat diganti dengan tepung sagu.

Kedua adalah protein, dapat ditemukan pada tepung ikan dan bungkil kelapa. Untuk mendapatkan tepung ikan, bisa didapat denganmembelinya di poultry shop. Begitu juga dengan bungkil kelapa yang juga bnyak dijual di poultry shop.

Ketiga adalah vitamin, dapat ditemui pada minyak ikan. Minyak ikan ini juga dapat dibeli di poultry shop. Kandungan minyak ikan yang dibutuhkan adalah vitamin A dan C. Vitamin A untuk membantu pertumbuhan, vitamin C untuk menjaga agarikan tetap aktif.

Keempat adalah mineral, dapat ditemukan pada tepung tulang dan tepung dolomite. Bila tidak ada, dapat memeli di pultry shop yang juga menyediakan mineral tepung ini.

Kali ini, urbanina akan menerangkan mengenai membuat ransum ikan lele dengan cara yang sederhana. Sehingga alat-alat yang digunakan juga cukup sederhana seperti ember, sendok, plastik kaca ukuran 1 m², dan 3 buah kantong plastik 2 kg.

Setelah semua alat dan bahan terkumpul, berikut adalah langkah-langkah pembuatannya.

  1. Buatlah adonan dari bahan-bahan tersebut diatas dengan cara menambahkan air secukupnya. Adapun perbandingan bahan-bahan yang digunakan untk membuat ransum ikan lele ini adalah sebagai berikut. 40% adalah bahan karbohidrat, 30% adalah bahan protein, 10% adalah bahan lemak, 10% adalah bahan mineral, dan 10 % adalah bahan vitamin.
  2. Adonan ini dibuat mirip dengan adonan keu yaitu tidak terlalu kering dan tidak terlalu cair.
  3. Kemudian, adonan yang sudah sempurna diletakkan kedalam kantong plastik yang telah dipersiapkan.
  4. Kantong yang telah berisi adonan itu diikat, kemudian pada bagian ujung plastik delubangi menggunakan paku 5 inci.
  5. Siapkan plastik kaca, kemudian olesi dengan minyak.
  6. Lalu, pencet kantong plastik tersebut sehingga akan mengeluarkan adonan. Keluarkan adonan secara memanjang (seperti mie) dan tidak terputus diatas plastik kaca yang sudah diolesi minyak tadi.
  7. Setelah itu, adonan yang telah memanjang tersebut ditaburi dengan tepung jagung tipis-tipis. Hal ini dimaksudkan agar pelet tidak menyatu ketika dikeringkan nantinya.
  8. Langkah selanjutnya adalah adonan yang telah memanjang tersebut dipotong-potong sesuai dengan kebutuhan.
  9. Terakhir dijemur hingga kering. Sebaiknya jangn dibawah terik matahari karena dikhawatirkan akan mengurangi kadar vitamin B.
Bagaimana Membangun Kemitraan Dalam Budidaya Ikan Lele?

Bagaimana Membangun Kemitraan Dalam Budidaya Ikan Lele?

Urbanina.com – Membangun kemitraan dalam budidaya ikan lele dapat mempermudah budidaya ikan lele itu sendiri. Maka, hal ini menjadi salah satu hal yang dicari-cari oleh para pembudidaya ikan lele untuk mengembangkan usaha mereka. Namun, ketika membangun kemitraan ini juga harus dilandasi dengan ilmu yang kuat tentang kemitraan dalam budidaya ikan lele. Oleh sebab itu, banyak pembudidaya ikan lele yang tidak melakukan kemitraan karena sedang hati-hati dengan langkah kemitraan ini.

kemitraan dalam budidaya ikan lele

Pada kesempatan ini Urbanina akan membahas tentang membangun kemitraan dalam budidaya ikan lele. Sebagai seorang yang melakukan budidaya ikan lele ini kami harapkan dapat meningkatkan usaha yang mereka geluti. Salah satu langkah kemajuan itu dapat dilakukan denga membangun kemitraan dalam budidaya ikan lele. Seperti yang telah disebutkan datas bahwa tidak banyak orang yang berani membangun kemitraan atau melakukan kerjasama dengan pihak lain dalam mengembangkan budidaya yang mereka lakukan. Oleh sebab itu, asalkan langakah membangun kemitraan dalam budidaya ikan lele ini dilandasi dengan keyakinan dan ilmu yang kuat, maka pastilah keberhasilan usaha dan keuntungan yang lebih besar akan didapatkan.

Berikut ini adalah beberapa bentuk kemitraan atau kerjasama yang dapat dilakukan di dunia budiday aikan lele. Denganmemahami bentuk-bentuk kerjasama ini diharapkan memberikan pengertian yang lebih mendalam agar dapat mengembangkan usaha dengan membangun kemitraan ini.

  1. Sistem Bagi Hasil

Mungkin ada yang menyebut sistem ini dengan sebutan kongsi, karena kedua nama kerjasama ini memiliki prinsip yang sama. Kerjasama sistem bagi hasil atau kongsi ini melibatkan dua pihak. Pihak pertama adalah sebagai pemodal dan pihak kedua adalah sebagai pelaksana. Kedua pihak tersebut memiliki perannya masing-masing untuk memperlancar budidaya ikan lele ini.

Peran pemodal dalam sistem bagi hasil atau kongsi ini adalah sebagai pihak yang menyediakan modal usaha budidaya. Modal dapat berupa lahan, bibit lele, pakan, obat-obatan, dan peralatan budidaya. Sedangkan peran pihak pelaksana adalah melaksanakan budidaya ikanlele ini dari awal sampai akhir. Dengan kata lain pelaksana menyediakan tenaga untuk membudidayakan ikan lele. Bagi mereka yang ingin membangun kemitraan ini, biasanya pembagian keuntungannya adalah 50:50, 50% untuk pemodal dan 50% untuk pelaksana.

Keuntungan dari sistem ini adalah bahwa kedua pihak mendapatkan keuntungan yang sama besar, apalagi ketika panen bertepatan dengan harga pasar yang mahal.

  1. Sistem Kemitraan

Sistem kerjasam yang kedua ini dilakukan juga diantara dua pihak, namun terdapat perbedaan jika dibandingkan dengan sistem bagi hasil. Kerjasama ini dibangun oleh dua pihak yang mana pihak pertama sering disebut dengan inti, sedangkan pihak kedua bisa disebut dengan plasma. Masing-masing dari pihak inti dan plasma memiliki peran yang berbeda serta dari awal telah melakukan perjanjian tentang pembagian hasil yang akan diterima.

Untuk lebih jelasnya, pihak inti memiliki kewajiban untuk menyuplai bibit lele, pakan, dan obat-obatan yang diperlukan. Dan pihak plasma memiliki kewajiban untuk menyediakan lahan dan tenaga kerja. Dan setelah mendapatkan panen yang didapatkan, harga panen sudah disesuaikan dengan harga awal ketika membuat perjanjian, sehingga tidak terpengaruh oleh harga pasar. selain itu, hasil panen yang didapat juga tidak boleh dijual ke pasar, melainkan harus dijual ke pihak inti.

Keuntungan dari kerjasama ini adalah bahwa harga ikan lele sudah disepakati sejak awal perjanjian. Dengan begitu, maka keuntungan sudah dapat diperkirakan selama ikan lelemendapat perawatan yang baik dan tumbuh sehat.

Cara Mudah Mengenali Bibit Ikan Lele Yang Baik

Cara Mudah Mengenali Bibit Ikan Lele Yang Baik

Urbanina.com – Budidaya ikan lele sudah sangat populer di Indonesia. Satu hal yang menarik dari budidaya ikan yang satu ini adalah perawatan yang tidak terlalu sulit, tetapi dapat menghasilkan panen yang dapat menguntungkan pembudidaya. Juga terdapat banyak pilihan jumlah ikan yang dibudidaya, dari skala paling kecil hingga yang terbesar. Sehingga, bagi mereka yang masih pemula dapat menjadikan usaha perikanan ini menjadi salah satu pilihan dalam memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya. Budget yang tersedia dapat disesuaikan dengan banyak pilihan dalam budidaya ikan lele ini. Namun, satu hal yang tidak boleh dipilih-pilih adalah tentang pemilihan bibit ikan lele yang baik. bagaimanapun juga bibit ikan lele yang baik merupakan tumpuan awal agar dapat tumbuh dengan baik sehingga diakhir nanti juga akan didapatkan potensi keberhasilan usaha yang lebih besar.

bibit ikan lele yang baik

Orang yang ingin membudidayakan ikan lele dapat memilih bibit ikan lele yang baik dengan memiliki pedoman dengan mengenali ciri-ciri dari bibit ikan lele yang baik tersebut. Bibit ikan lele ini dapat dibeli di supplier yang sudah terpercaya kualitas bibitnya. Dan berikut in adalah empat ciri-ciri bibit ikan lele yang baik yang dpat dijadikan pedoman ketika hendak membeli bibit ikan lele.

  1. Bibit lele mampu bergerak lincah

Bibit ikan lele yang sehat adalah bibit yang mampu bergerak lincah. Cara mengetesnya, masukkan jari atau benda lain ke kolam lalu lihat pergerakan dari ikan tersebut. bibit yang sehat tentu akan bergerak lincah seabagai respon karena ada benda asing yang masuk ke kolam. Namun, jika bibit tidak merespon dengan baik dan gerakannya maju mundur saja dan tidak lincah, maka bibit tersebut sebaiknya tidak usah dibeli.

  1. Memiliki badan yang mulus dan sewarna

Ciri-ciri yang kedua adalah bahwa bibit ikan lele memiliki permukaan badan yang mulus serta hanya satu warna saja. Bibit ikan lele bisa disebut dengan kata lain adalah bayi ikan lele. Yang mana masih memiliki sifat bawaan yang belum terpengaruhi oleh dunia luar. Begitu juga dengan bibit ikan lele ini,sepatutnya bibit yang baik adalah yang belum memiliki cacat di permukaan tubuhnya. Jika sampai ada bibit yang permukaannya lecet, resiko kematian ketika dibudidaya akan lebih besar. Selain itu, warna yang dimiliki permukaan badan bibit juga masih satu warna, biasanya berwarna coklat tua atau hitam kemerahan.

  1. Bibit lele lincah dalam bergerak melawan arus

Bibit lele yang sehat seharusnya memiliki kelincahan dalam bergerak melawan arus air kolam. Nah, untuk mengeceknya, dapat dilakukan dengan memiringkan wadah secara perlahan, kemudian perhatikan pergerakan bibit. Jika sebagian besar bibit bergerak melawaan arus, maka bisa dianggap baik. namun, jika sebagian besar bibit bergerak terbawa arus air, maka sebaiknya bibit yang semacam ini tidak dibeli saja.

  1. Memiliki bagian tubuh yang lengkap

Ciri-ciri yang keempat yang dapat diperhatikan dari bibit lele yang baik adalah kelengkapan bagian tubuh bibit lele tersebut. Bagian tubuh lele yang seharusnya ada pada tubuh bibit lele diantaranya dua pasang sirip bawah, sirip punggung sepanjang badan, dan juga empat pasang sungut. Bila kesemua bagian tubuh tersebut diatas ada, maka bibit tersebut dapat dipastikan memilki kualitas yang baik.

Demikian keempat ciri-ciri bibit lele berkualitas yang dapat menjadi acuan ketika membeli bibit ikan lele. Maka dari itu, ketelitian ketika membeli bibit lele sangat diperlukan agar mendapat bibit lele yang berkualitas.

Cara Efektif Dalam Memberi Pakan Ikan Lele

Cara Efektif Dalam Memberi Pakan Ikan Lele

Urbanina.com – Memberi pakan ikan lele merupakan salah satu langkah yang memiliki efek yang banyak terhadap keberhasilan budidaya ikan lele. Dengan memberi pakan ikan lele saja, maka akan berdampak pada banyak hal disekitarnya. Kemerataan pertumbuhan ikan, kualitas air, serta tingkat kematian adalah beberapa hal yang terpengaruhi akibat pemberian pakan ini. Maka dari itu, untuk memberi pakan ikan lele, diperlukan cara yang efektif sehingga dapat memberi efk baik terhadap pertumbuhan ikan lele sekaligus baik untuk mendapat keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Berikut ini adalah beberapa cara efektif yang dapat diterapkan, yaitu :

memberi pakan ikan lele

  1. Memberi pakan secara teratur

Pengalaman telah menunjukkan bahwa pemberian paka sebaiknya dilakukan secara teratur atau dengan kata lain terjadwal. Dapat dilakukan dengan jadwal 3 kali sehari atau 2 kali sehari. Kalau pagi, dapat dilakukan sekitar pukul 8 sampai pukul 9, karena ketika masih pagi lele idak memiliki nafsu makan yang besar.

  1. Ukuran pelet disesuaikan dengan pertumbuhan lele

Memberi pakan ikan lele berupa pelet dapat dilakukan dengan disesuaikan dengan ukuran lele. Lele tumbuh dari lele kecil hingga besar tentu memiliki ukuran tersendiri sesuai dengan masa pertumbuhannya. Maka dari itu, untuk memberi pakan yang efektif dapat dilakukan dengan memberi pelet yang ukurannya disesuaikan dengan ukuran lele. Ukuran pelet ini sendiri dapat dipilih di pasar yang telah menjual pelet dengan berbagai jenis ukuran.

  1. Membasahi pelet hingga mengambang

Pelet yang diberikan kepada ikan lele sebaiknya bukan pelet yang kering yang keluar dari kemasan. Namun, sebelum diberikan sebaiknya pelet dibasahi terlebih dahulu secara merata, lalu didiamkan hingga mengembang. Setelah itu, baru pelet ini diberikan kepada ikan lele. Hal ini untuk mengantisipasi sifat rakus yang dimiliki ikan lele ini. Jika ikan lele diberi pelet kering, maka pelet akan mengembang didalam perut ikan yang mengakibatkan ikan akan terlalu kekenyangan. Hal ini tentu tidak diharapkan karena dapat mengganggu keleluasaan lele dalam bergerak.

  1. Menambahkan probiotik pada pelet

Pelet yang baik diberikan kepada ikan lele adalah pelet yang telah mengembang. Selain itu, akan lebih baik jika ditambahkan probiotik dan vitamin pada pelet tersebut. Kedua bahan tersebut akan baik untuk pertumbuhan ikan dan dapat dibeli di toko ternak terdekat. Selain baik untuk ikan, juga baik untuk kolam karena dapat menjaga kualitas air agar ikan tidak terganggu oleh sisa-sisa bahan organik.

  1. Memberi pakan secukupnya

Pemberian pakan berupa pelet diharapkan untuk secukupnya saja, tidak perlu ada sisa. Sehingga, dapat diberikan denga jumlah sedikit demi sedikit. Hal ini dikhawatirkan jika ada sisa pelet yang tenggelam didasar kolam akan mempengaruhi kualitas kolam sehingga menjadikan pH kolam berubah menjadi asam. Hal ini tentu tidak baik untuk kualitas air kolam lele yang ideal.

  1. Sebarkan pakan dengan merata

Hal ini dimaksudkan agar semua ikan lele yang dipelihara mendapatkan jatah pakan yang dibutuhkan. Jika pakan hanya disebar di sebagian area saja, dikhawatirkan kepadatan ikan mengakibatkan ada sebagian ikan yang tidak mendapat jatah makan sehingga pertumbuhan ikan tidak merata.

  1. Kondisi kolam tenang setelah pemberian pakan

Setelah pemberian pakan tersebut, kondisi kolam harus dalam keadaan tenang sehingga ikan akan nyaman dalam mencerna makanan. Hindari kondisi kolam yang rusuh seperti penggantian air, melemparkan sesuatu yang keras ke kolam, maupun kerusuhan lainnya. Dengan begitu, pencernaan makanan pada lele juga akan terjaga tenang dan kemungkinan lele memuntahkan pakan akibat kolam yang rusuh dapat dihindari.

Berbagai Macam Pilihan Jenis Kolam Ikan Lele

Berbagai Macam Pilihan Jenis Kolam Ikan Lele

Urbanina.com – Budidaya ikan lele dapat dilakukan bagi siapa saja yang mau menjadikan usaha ini untuk memperoleh keuntungan. Namun, bagi mereka yang hanya ingin membudidayakan ikan lele sebagai hobi, juga tidak dipermasalahkan. Nah, untuk membudidayakan ikan lele ini terdapat banyak pilihan jenis kolam ikan lele yang dapat pilih disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Beberapa jenis kolam ikan lele berikut ini dapat jadikan untuk alternatif ketika hendak mebudidaya ikan lele.

jenis kolam ikan lele

  1. Kolam Semen

Kolam semen maksudnya adalah jenis kolam ikan lele yang dibuat dengan bahan utama adalah semen. Untuk membuat kolam semacam ini, dapat menggunakan dalaman batu bata maupun batako. Dan kolam semen juga memeliki kelebihan utama yaitu dapat menahan kekuatan air yang hingga mencapai volume maksimal, tahan lama, serta mudah dalam hal perawatan. Dengan begitu, kolam jenis ini cocok digunakan untuk budidaya ikan lele dalam jumlah yang banyak dan dalam jangka waktu yang lama. Namun, jika lama tidak digunakan, tembok kolam ini akan pecah-pecah.

  1. Kolam Fiber

Untuk membudidayakan ikan lele menggunakan kolam fiber, akan mendapat beberapa keuntungan diantaranya kolam cukup kuat menahan air, dapat dipindah tempatkan, serta tahan lama. Selain itu, bentuk dari kolam juga dapat dipesan sesuai selera, dan perawatan atau pembersihannya juga mudah. Yang menjadi kekurangan dari kolam fiber ini adalah lebih sering dilakukan penggantian air serta harga pembuatannya relatif mahal.

  1. Kolam Terpal

Kolam terpal adalah jenis kolam ikan lele yang terbuat dari terpal. Kolam jenis ini memiliki kelebihan diantaranya harganya yang relatif lebih murah. Kolam terpal dapat dibuat dengan dibantu kerangka yang terbuat dari bambu ataupun besi agar dapat menahan air lebih kuat lagi. Dan biasanya, kolam jenis ini dibuat di tanah yang digali terlebih dahulu. Namun, kekurangan dari kolam jenis ini adalah terpal yang digunakan dapat mudah bocor jika terkena benda yang tajam.

  1. Kolam Tanah

Kolam tanah banyak digunakan di areal persawahan yang dialih fungsikan menjadi kolam lele. Kelebihan dari kolam jenis ini adalah biaya yang relatif murah serta ketersediaannya unsur alami yang dihasilkan oleh tanah. Dan juga, pergantian air yang dilakukan tidak terlalu sering bahkan dapat tidak diganti hingga waktu panen. Disamping itu, ada beberapa kelemahan dari kolam yang satu ini. Salah satunya, jika dibandingakan denga jenis kolam lainnya, jenis kolam ini memerlukan perawatan yang mengeluarkan banyak tenaga. Sebagai contoh dalam pembersihan air, karena konstruksinya yang cukup luas maka sering kali diperlukan bantuan mesin untuk menghemat waktu.

  1. Kolam Plastik

Kolam plastik termasuk dalamjenis kolam yang sederhana. Untuk pembuatannya, dapat dilakukan dengan menggali tanah atau membuat kerangka dari lembaran papan kayu terlebih dahulu. Setelah itu, tanah atau papan tersebut dilapisi dengan lembaran plastik. Kelebihan dari kolam ini adalah murah dalam pembuatannya. Namun, disisi lain kekurangan dari kolam ini adalah plastik yang digunakan ini dapat sobek sehingga mengakibatkan kebocoran.

  1. Kerangka Bambu

Jenis kolam kerangka bambu juga dapat dijadikan alternatif dalam budidaya ikan lele. Kolam ini banyak digunakan bagi mereka yang tinggal tinggal di pinggiran sungai atau danau. Kelebihan dari kolam ini adalah murah dalam pembuatannya. Namun, jika kerangka bambu yang dipasang tidak kuat akan mengakibatkan kolam hanyut ketika terseret arus atau saat terjadi banjir. Dengan berbagai pilihan jenis kolam diatas, maka dapat orang dapat memilih disesuaikan dengan kebutuhan budidaya.

Jenis – Jenis Ikan Lele Budidaya Di Indonesia

Jenis – Jenis Ikan Lele Budidaya Di Indonesia

Urbanina.com – Semangat budidaya ikan lele dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia yang ingin memiliki usaha perikanan yang menguntungkan. Pasalnya, budidaya ikan lele dapat dilakukan dengan tidak terlalu sulit sekaligus telah memiliki pasar yang merebak banyak di Indonesia. Setiap restoran atau warung makan yang menyediakan olahan lele tentu sangat membutuhkan pasokan ikan lele yang mencukupi. Itu hanya satu dari banyaknya pasar yang membutuhkan ikan lele yang berkualitas untuk dikonsumsi. Untuk dapat memperoleh daging lele yang berkualitas, tentu tidak hanya berasal dari jenis ikan lele yang sembarangn saja. Jenis ikan lele budidaya lah yang memiliki kualitas yang sesuai denga permintaan konsumen.

jenis ikan lele budidaya

Untuk dapat mengetahui jenis ikan lele budidaya yang berkualitas serta sesuai dengan permitaan konsumen, maka diperlukan pengetahuan yang baik tentangnya. Para koki di restoran maupun warung makan tentu memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengenal jenis ikan lele yang berkualitas. Tetapi, kali ini Urbanina akan memberikan penjelasan singkat yang juga dapat menjadi referensi bagi pembaca agar dapat mengetahui jenis ikan lele budidaya dengan baik. Langsung saja, berikut ini beberapa jenis ikan lele budidaya yang tentunya bagus untuk dibudidayakan.

  1. Ikan Lele Dumbo

Ikan lele dumbo merupakan salah satu jenis ikan lele yang dapat menghasilkan panen yang unggul dibandingkan ikan lele yang lain. Hal ini tentu dipengaruhi banyak faktor yang menjadi keunggulan tersendiri dari ikan lele dumbo ini. Yang menjadi salah satu keunggulan dari ikan lele ini adalah ikan lele dumbo memiliki tubuh yang lebih panjang sekaligus memiliki tubuh yang lebih gemuk dibanding dengan ikan lokal lainnya.

Ikan lele dumbo ini merupakan lele yang dihasilkan dari perkawinan silang antara ikan lele betina clarias fuscus dari Taiwan dengan ikan lele jantan clarias mossambicus dari Kenya. Salah satu ciri khas dari lele dumbo adalah akan muncul bercak-bercakhitam dan putih ketika ikan tersebut mengalami stress atau terkejut. Bercak tersebut akan hilang kembali jika kondisi kolam sudah kembali normal. Dan juga, patil dari ikan lele dumbo ini tidak terlalu berbahaya jika dibandingkan patil ikan lele lokal.

  1. Ikan Lele Sangkuriang

Ikan lele sangkuriang merupakan ikan lele unggulan juga yang dapat dibudidayakan. Ikan ijenis ini dihasilkan dari hasil perkawinan silang yang agak rumit, pertama terjadi perkawinan antara ikan lele dumbo betina F2 dengan ikan lele dumbo jantan F6. Perkawinan silang tersebut akan menghasilkan ikan lele dumbo F2-6. Kemudian, jenis ikan lele dumbo F2-6 ini dikawinkan dengan ikan lele dumbo betina F2. Nah, dari perkawinan inilah akan dihasilkan lele sangkuriang. Hasil perkawinan ini dapat menghasilkan ikan lele yang lebih berkualitas, sehingga tidak sedikit pembudidaya ikan lele yang memilih ikan sangkuriang sebagai ikan yang mereka budidaya.

  1. Ikan Lele Phyton

Jenis ikan ini juga merupakan ikan lele yang dihasilkan dari sistem perkawinan silang. Ikan jenis ini dihasilkan dari perkawinan antara ikan lele thailand betina dengan lele dumbo F6 jantan. Hasil dari perkawinan silang tersebut dapat menghasilkan ikan lele denga kualitas bagus dan rupanya memiliki bentuk yang menyerupai ular phyton. Mulutnya kecil, dan kepala pipih dan memanjang seperti ular phyton.

  1. Ikan Lele Masamo

Ikan jenis ini merupakan jenis ikan lele unggulan yang bercirikan akan muncul warna keputihan atau keabu-abuan jika mengalami stress. Kepala lele jenis ini lebih lonjong, dengan patil yang tajam, serta memiliki badan yang panjang dan berwarna kehitaman.

  1. Ikan Lele Mutiara

Ikan lele mutiara merupakan jenis ikan lele yang berasal dari persilangan ikan lele dumbo lokal, lele mesir, lele paiton, dan lele sangkuriang, yang sudah diseleksi atau dipilih-pilih. Dan hasil dari seleksi ini menghasilkan ikan lele mutiara yang dapat tumbuh dengan cepat sehingga termasuk dalam daftar lele unggulan untuk budidaya.