Budidaya Lobster Batu Sangat Prospektif

Budidaya Lobster Batu Sangat Prospektif

Urbanina.com –  Panulirus Penicillatus merupakan salah satu jenis lobster yang di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan lobster batu. Bentuk lobster ini nyaris sama dengan spesies lobster lainnya, tetapi ukurannya lebih besar dari udang biasa. Bila lobster air tawar ini dipelihara sesuai dengan cara budidaya lobster batu yang tepat dapat menjadi sebuah usaha yang cukup prospektif. Terlebih permintaan pasarnya semakin luas, baik di dalam negeri terutama untuk kebutuhan industri, catering, restoran, ataupun diekspor ke berbagai negara.

Sebelum memulai usaha budidaya lobster batu sebaiknya Anda mengetahui terlebih dahulu ciri-ciri dan karakteristik dari lobster yang juga sering disebut Spiny Lobster atau Rock Lobster ini. Bentuknya seperti pada umumnya lobster lainnya, tetapi mempunyai warna yang berbeda. Berikut ini sekilas gambaran mengenai Lobster Batu :

Budidaya Lobster Batu []

Tampilan fisik :

Kepala: bentuknya biasa dilapisi dengan cangkang luar yang bersatu dengan tubuh, mempunyai antena.

Warna: tubuhnya berwarna kemerahan atau kehijauan, seperti hijau kekuningan, hijau coklat kebiruhitaman, atau gelap berwarna, yaitu coklat kemerahan.

Penyebaran :

Lobster Batu telah hidup menyebar di beberapa belahan dunia antara lain pantai benua Meksiko (Guerrero, Nayarit, Sinaloa), pulau-pulau lepas pantai barat Amerika (Kepulauan Galapagos, Cocos Island, Clipperton Island), Samoa, Hawaii, Jepang, Laut Merah, Pasifik Timur dan Indo-Pasifik Barat.

Habitat :

Pada tempat hidup asalnya Lobster Batu tinggal di daerah berbatu pada kedalaman berkisar 1- 4 meter. Ditemui di pantai yang berombak, tidak dipengaruhi oleh sungai, dan air yang jernih. Maka dari itu seringkali ditemukan di pulau-pulau kecil dan dekat pantai. Lobster Batu ini hidup tidak bergerombol (menyendiri) dan nokturnal (aktif pada malam hari), bersembunyi di siang hari di celah-celah karang dan batu.

Ukuran :

Panjang tubuh Lobster Batu maksimal kira-kira 40 cm. Lobster dewasa memiliki panjang rata-rata lebih kurang 30 cm dimana lobster jantan umumnya jauh lebih besar daripada betina.

Metode penangkapan :

Pada habitat aslinya kebanyakan Lobster Batu ditangkap dengan menggunakan tangan atau dengan ditombak ketika menyelam pada siang hari atau menggunakan sinar obor di dekat permukaan air laut/pantai di malam hari. Untuk jenis ini penggunaan perangkap tidaklah efektif. Akan tetapi untuk penggunaan jaring kiranya menawarkan hasil yang lebih baik. Biasanya lobster-lobster tersebut dijual segar untuk dikonsumsi lokal, terutama ekor lobsternya.

Untuk keberhasilan budidaya lobster batu dan kelangsungan hidupnya  perlu diperhatikan kondisi kolam budidaya. Misalnya, ketinggian air kolamnya kira-kira 40 cm – 2 m. Kadar garam dalam airnya berkisar 1.028 – 1.032, kadar garamnya dapat diperiksa dengan mempergunakan digital salt meter. Kemudian sebarkan kerang atau pecahan kerikil di dasar kolam supaya lobster nyaman layaknya di habitat aslinya, yakni senang bersembunyi di karang.

Kolam budidaya juga perlu dipertahankan pemenuhan oksigennya di dalam air dengan menggunakan aerator. Jika perlu siapkanlah cadangan generator (genset) jika pasokan aliran listrik dari PLN padam.  Makanan yang perlu diberikan pada lobster batu  berupa  ikan kecil dari laut, seperti kece, kerang atau ikan akhiran dari pelelangan. Berilah pakan sehari 2 kali dengan takaran yang tepat atau pas, tidak boleh kekurangan dan kelebihan untuk menjaga keadaan air tetap segar.

Teknik Sederhana Untuk Pemanenan Lobster

Teknik Sederhana Untuk Pemanenan Lobster

Urbanina.com – Usaha budidaya lobster memang membutuhkan tahapan-tahapan yang harus dilalui secara runtut. Namun, jika pembudidaya dapat melaluinya dengan sesuai prosedur yang benar, ia akan mendapatkan imbalan yang cukup untuk membayar kesabaran yang terus ia pertahankan. Melalui pemanenan lobster yang baik, maka pembudidaya dapat memasarkan lobster hasil budidayanya untuk meraup keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Lobster yang dijual dipasaran pada umunya memiliki harga yang relatif tinggi. Salah satunya mungkin dikarenakan permintaan konsumen yang semakin banyak. Namun, harga yang mahal ini bisa dimengerti oleh konsumen. Karena jika seseorang pergi ke restoran atau warung makan yang menyediakan menu olahan udang, tentu dia akan menemui bahwa harga menu olahan udang tersebut relatif lebih tinggi dari pada menu olahan yang lain.

pemanenan lobster

Untuk dapat melakukan pemanena lobster dengan baik, pembudidaya dapat membagi proses pemanenan lobster ini menjadi tiga jenis panen. Adapun ketiga jenis panen tersebut adalah pemanenan induk lobster, pemanenan induk yang sedang bertelur dan pemanenan benih. Dengan ketiga jenis pemanenan lobster ini, maka terdapat tiga prosedur yang berbeda pula untuk upaya pemanenan lobster yang dibudidayakan. Walau begitu, perbedaan jenis pemanenan ini bertujuan agar dapat memperlakukan lobster yang dibudidayakan dengan benar, selain itu cara untuk pemanenan ini bisa dikatakan mudah dan sederhana untuk dilakukan. Berikut kami jelaskan satu per satu.

  1. Cara pemanenan induk lobster

Secara garis besar pemanenan induk lobster ini dapat digunakan dengan beberapa tahapan yaitu penangkapan, penampungan, pemeriksaan, dan pengadaptasian. Perlu digarisbawahin bahwa proses panen induk lobster harus dilakukan secara perlahan dan hati-hati agar tidak terjadi kerusakan fisik, terutama pada kaki dan capit lobster.

Pertama-tama, perlu disiapkan scoopnet halus berukuran 20 x 30 cm dan ember plastik berdiameter 50 cm yang terisi air jernih setinggi 20cm. Untuk lobster yang masih bersembunyi di shelter peralon, dapat langsung diambil dengan kedua tangan menutup ujung peralon. Kemudian peralon diangkat dan lobster diletakkan di ember yang telah dipersiapkan tersebut. Untuk menghindari stress, kepadatan ideal wadah untuk induk jantan berbanding induk betina adalah 5:6, dan terdapat sirkulasi udara yang baik di wadah penampungan tersebut.

  1. Cara pemanenan induk lobster yang sedang bertelur

Untuk pemanenan induk yang sedang bertelur, diperlukan kehati-hatian yang lebih. Karena, lobster pada kondisi ini memiliki sifat lebih mudah stress bila terjadi pemindahan lingkungan. Salah satu cara sederhana untuk memanen induk yang sedang bertelur adalah sebagai berikut. Pengambilan lobster dapat menggunakan scoopnet secara perlahan dan penuh kehati-hatian. Kemudian induk yang sedang bertelur tersebut diangkat menggunakan tangan, dan lepaskan anakan lobster yang masih menempel dengan membiarkan induk mengibaskan ekornya di permukaan air. Jika diperlukan perontokan juvenil (anakan lobster) dapat dibantu dengan merontokkan juvenil tersebut dengan bantuan jari kita. Setelah itu induk diletakkan di aquarium karantina dahulu, yang dimaksudkan agar dapat memulihkan kondisi tubuhnya.

  1. Cara pemanenan benih

Peralatan yang dibutuhkan untuk memanen benih diantaranya adalah scoopnet ukuran 20 x 10 cm, dan ember plastik. Adapun benih yang dipanen adalah yang berukuran 1-2 cm dengan waktu yang paling tepat untuk melakukan pemanenan benih adalah sebelum pukul 9 pagi. Caranya, pertama-tama air didalam aquarium atau wadah benih dikurangi hingga kedalaman air setinggi 15-20 cm. Lalu, benih yang siap panen ditangkap menggunakan scoopnet secara perlahan dan hati-hati, dan dimasukkan ke ember plastik yang telah dipersiapkan. Jika tempat pemanenan dan tempat penampungan relatif jauh, disarankan untuk meletakkan daun-daunan atau kertas yang sudah dibasahi di dasar ember plastik seebelum melakuakan pemanenan benih.

Berbagai Media Pemeliharaan Lobster Yang Dibutuhkan

Berbagai Media Pemeliharaan Lobster Yang Dibutuhkan

Urbanina.com – Budidaya lobster ikan air tawar dapat dilakukan oleh siapa saja yang memiliki keinginan untuk membudidayakannya. Karena, meskipun memiliki banyak langkah yang harus ditempuh, upaya budidaya lobster air tawar ini memiliki tingkat kemudahan yang lebih tinggi dibanding dengan budidaya udang galah ataupun udang windu. Selain dengan proses budidaya yang lebih mudah, peralatan dan media pemeliharaan lobster yang digunakan pun juga mudah untuk didapatkan. Peralatan pemeliharaan lobster telah dibahas di artikel sebelumnya, maka kali ini Urbanina akan membahas tentang media pemeliharaan lobster. Ada beberapa media pemeliharaan lobster yang perlu disiapkan pembudidaya untuk memperlancar proses budidaya lobster ini, yang tentunya mudah ditemukan disekitar kita. Berikut adalah berbagai media pemeliharaan lobster yang dibutuhkan untuk budidaya.

media pemeliharaan lobster

  1. Aquarium untuk pemijahan

Aquarium untuk pemijahan difungsikan khusus untuk tempat pemijahan atau perkawinan induk lobster. Nanti juga akan kita bahas mengenai aquarium lain yang juga digunakan untuk kepentingan budidaya yang lainnya. Ukuran aquarium ini bisa beragam, sebagian ada yang lebih memilih ukuran 100 x 50 x 25 cm, denga kedalaman air 20 cm. Jangan lupa untuk melengkapi peralatan pemeliharaan yang telah kami tulis di artikel sebelumnya.

  1. Aquarium untuk pengeraman

Sesuai judulnya, aquarium yang kedua ini difungsikan untuk tempat pengeraman telur, sehingga dikhususkanuntuk induk betina saja. Ukuran aquarium ini juga beragam sesuai keinginan pembudidaya, dan lama pengeraman telur oleh induk betina biasanya sekitar 30-40 hari.

  1. Aquarium untuk penetasan dan pembesaran

Aquarium ini difungsikan untuk proses penetasan telur dan pembesaran benih. Proses budidaya lobster air tawar yang baik memang dilakukan dengan banyak media yang beragam sehingga mempermudah pengelompokan lobster dan dapat menumbuhkan lobster degnan lebih optimal. Tahapan penetasan telur biasanya belangsung antara 10-12 hari, dengan sebagian anakan lobster sudah melepaskan diri dari induknya.

  1. Aquarium untuk karantina

Maksud dari karantina ini adalah untuk menyendirikan induk lobster yang telah menetaskan telur sebelumnya. Karena, biasanya induk lobster akan mengalami prosess moltin setelah menetaskan telurnya. Dengan disendirikan di aquarium karantina, diharapkan lobster terlindung dari sifat kanibalisme lobster yang lain dan dapat melakukan ganti kulit dengan lancar.

  1. Box fiber

Box fiber adalah media pemeliharaan yang dapat menjadi alternatif dalam memelihara benih lobster yang masih berukuran kecil. Bila memelihara menggunakan box fiber, pembudidaya dapat menghemat ruang karena box fiber dapat disusun secara bertingkat.

  1. Kolam tanah / tambak

Kolam tanah atau tambak dapat digunakan untuk membesarkan lobster yang telah siap untuk dibesarkan. Kolam tanah ini biasanya berukuran besar dan dapat menampung lobster dalam jumlah yang lebih banyak. Apabila hendak menggunakan kolam tanah untuk pembesaran, disarankan agar memasang karpet plastik disetiap pinggir kolam dengan tujuan agar lobster tidak dapat merayap dan pergi meninggalkan kolam. Selain itu, juga tetap memperhatikan kualitas air agar tetap terjaga seperti terdapat air yangmengalir sehingga pasokan oksigen dapat terpenuhi, dan lain sebagainya.

  1. Kolam semen

Kolam yang juga dbisa menjadi alternatif untuk pembesaran lobster adalah kolam semen. Seperti pada aquarium, untuk mendapatkan kadar oksigen terlarut yang cukup kolam air juga perlu dipasang aerator. Dan selain perlengkapan peralatan budidaya, kolam semen biasanya dibuatkan satu lubang buangan yang dapat secara otomatis dapat mengurangi debit air bila kolam penuh. Kemudian, untuk mengantisipasi agar lobster tidak keluar dari kolam, dinding kolam diperhalus agar lobster tidak dapat merayap melalui dinding tersebut.

Memahami Proses Molting Pada Lobster Yang Dibudidaya

Memahami Proses Molting Pada Lobster Yang Dibudidaya

Urbanina.com – Proses molting adalah nama lain dari proses ganti kulit pada makhluk hidup. Yang paling populer di masyarakat, proses molting atau ganti kulit ini terjadi pada hewan reptil yaitu ular. Terkadang orang menemukan kulit lama ular yang dilepaskannya di tempat tertentu. Biasanya ular melepaskan kulit lamanya dengan menghimpitkan tubuhnya diantara dua bongkah batu agar kulit lamanya lepas dan berganti dengan kulit yang baru. Namun, proses ganti kulit ini juga terjadi pada hewan lainnya termasuk lobster. Proses molting pada lobster ini juga bertujuan agar lobster mendapatkan kulit barunya. Lobster yang hidup di alam liar telah memiliki lingkungan yang mendukung proses molting yang dialaminya, namun ketika lobster tersebut dibudidaya, pembudidayalah yang harus mendukung proses molting pada lobster dengan prosedur yang telah ditentukan.

proses molting pada lobster

Salah satu upaya dari pembudidaya dalam mendukung proses molting pada lobster ini adalah dengan meletakkan shelter, batu kapur dan peralatan lengkap lainnya di aquarium tempat tinggal lobster. Salah satu fungsi shelter bagi lobster adalah untuk tempat terjadinya proses ganti kulit yang dialaminya. Dan salah satu fungsi dari batu kapur adalah untuk menjaga kandungn kalsium pada air sehingga mampu mendukung proses pembentukan cangkang setelah proses molting selesai. Sebagai pembudidaya, tentu akan lebih baik jika memahami proses molting pada lobster yang dibudidaya. Ia akan lebih mudah dalam mengenali tingkah laku hewan peliharaannya tersebut. lalu, apa saja yang perlu diketahui tentang proses molting pada lobster ini?

Harus diketahi bahwa proses molting merupakan salah tahap kehidupan lobster yang banyak menyebabkan kematian. Wacana ini didapat dari pengalaman di masa lalu dari yang sudah pernah melihat bagaimana proses molting banyak menyebabkan kematian lobster. Setelah diteliti, kematian yang terjadi adalah disebabkan oleh kegagalan lobster untuk melakukan proses ganti kulit. Kegagalan tersebut disebabkan oleh dua jenis hormon yang muncul pada saat molting yaitu hormon Ecdysis sebagai pemicu proses molting, dan hormon Molt Inhibiting Hormone sebagai hormon yang dapat menghambat prosesmolting iitu sendiri. Dan bila lobster gagal melakukan proses ganti kulit, maka dia akan mati.

Ciri-ciri terjadinya proses ganti kulit pada lobster dapat diketahui dengan mengenali perubahan yang dialami lobster air tawar yang dipelihara sebagai berikut. Pertama, lobster yang sedang mengalami proses molting akan cenderung berdiam diri di tempat persembunyian. Dengan banyak berdiam diri, lobster akan terlihat kurang aktif dalam bergerak. Kalaupun aktif bergerak, hanya dapat bergerak secara lamban dan terlihat seperti lobster akan mati. Kedua, dilihat dari warna kulitnya, lobster yang sedang mengalami proses molting akan cenderung berwarna keruh atau gelap. Dan yang ketiga, kelopak kepala lobster atau yang disebut rostrum akan terlihat membengkang. Rostrum tersebut terlihat membengkang karena terbuka pada saat mengalami proses molting.

Proses ganti kulit ini memilii empat tahap yang dipelajari secara biologis. Keempat tahap ini diawali dengan tahapan yang pertama yang bernama Proecdysis. Lobster bersiap untuk melakukan molting yang ditandai dengan mulai berhenti makan. Tahapan yang kedua disebut Ecdysis, yang ditandai dengan pelepasan diri dari kerangka lama sehingga kulitnya masih lembut dan lunak. Tahapan yang ketiga adalah Metecdysis, yang mana terjadi proses pemindahan mineral kalsium dari gastrolith ke kutikel barunya. Dan tahapan yang terakhir adalah Intermolt, yang mana terjadi proses molting yang hampir selesai. Yaitu, kerangka dan jaringan baru telah mulai jadi dan dapat digunakan.

Cara Pemeliharaan Benih Lobster Yang Telah Menetas

Cara Pemeliharaan Benih Lobster Yang Telah Menetas

Urbanina.com – Upaya budidaya lobster harus dilakukan secaar tekun agar pembudidaya mendapatkan hasil yang optimal. Pembudidaya harus berperan aktif dalam banyak langkah budidaya takterkecuali untuk langkah pemeliharaan benih lobster yang telah menatas. Pasalnya, sebelum menempun langkah pemeliharaan lobster ini, pembudidaya telah melakukan langkah pemijahan induk lobster dan mengawasi proses bertelurnya hingga telur menetas. Ketika proses pemijahan, lobster akan melakukan perkawinan secara alami, lalu setelah waktu tertentu akan bertelur dan dilalnjutkan proses pengeraman dan penetasan telur. Pembudidaya tentu sudah mengetahui bahwa benih atau anakan lobster yang baru menetas tidak dapat langsung dipelihara, karena masih memerlukan perlindungan dari induknya selama beberapa hari. Pemeliharaan benih lobster yang dibahas Urbanina kali ini adalah benih yang mulai tumbuh tanpa perlindungan dari induknya.

pemeliharaan benih lobster

Ketika semua benih yang berasal dari tetasan telus lepas dari tubuh induknya, benih tersebut masih membutuhkan perlindungan dari induknya untuk dapat bertahan hidup. Barulah ketika benih tersebut tumbuh hingga umur 8-15 hari, benih telah memiliki insting untuk hidup mandiri. Maksud dari istilah mandiri adalah bahwa benih pada umur tersebut sudah memiliki insting untuk mencari tempat berlindung dari gangguan luar atau gangguan dari sesamanya. Tak cukup sampai disitu, pada umur tersebut benih atau anakan lobster tersebut sudah dapat mencari pakan sendiri serta sudah mulai mengalami ganti kulit atau yang disebut molting. Oleh sebab itu, pembudidaya dapat memindahkan benih yang telah berumur 2 pekan dari aquarium induk ke tempat lain yang disebut kolam pembesaran.

Untuk mempermudah pemahaman, kami memisalkan untuk memiliki bak semen dengan ukuran 100 x 100 x 50cm sebagai kolam pembesaran tersebut. Tempat inilah yang digunakan untuk pemeliharaan benih lobster yang telah memiliki insting kemandirian tersebut. Pemeliharaan benih lobster yang dilakukan pada bak tersebut dilakukan dengan mengisi air pada kedalaman antara 25-30 cm, dengan tingakat kepadatan kolam sebanyak 20-30 ekor per meter persegi. Karena air yang telah diisikan pada bak semen tersebut bersifat tenang(tidak mengalir), maka sekalian dipasang aerator agar dapat menghasilkan gelembung udara. Dengan adanya gelembung udara, maka jumlah oksigen terlarut dapat dihasilkan sehingga baik untuk pertumbuhan benih udang didalamnya.

Bak semen tersebut juga memerlukan shelter yang dibutuhkan oleh udang sebagai tempat berlindung atau berdiam diri ketika siang hari. Didalam bak semen tersebut, kami tempatkan pipa peralon ukuran 5/8 inci, dengan panjang 4 cm, dengan jumlah sebanyak 100 buah. Karena hanya contoh, pembudidaya dapat menggunakan bahan lain untuk keperluan shelter bagi lobster yang dipelihara ini. Setelah menyediakan shelter bagi lobster, kolam juga perlu dilengkapi dengan batu kapur. Batu kapur tersebut memiliki peran penting bagi benih yang dipelihara didalamnya, yaitu untuk menyediakan kalsium yang cukup yang dibutuhkan benih lobster terutama untuk proses ganti ulit ayang disebut moulting. Karena, batu kapur akan menghasilkan zat kimia berupa kalsium didalam kolam.

Setelah bak semen tersebut siap dengan segala perlengkapannya, benih lobster yang hidup didalamnya dapat diberi pakan dengan jadwal pemberian setiap 2 kali sehari. Pakan yang diberikan pada benih lobster ini dapat berupa plankton, artemia, kutu air, tepung ikan, cacing sutera, pelet udang yang sudah dihaluskan dan juga bisa berupa biskuit bayi yang sudah dihaluskan. Biasanya, jika pemberian pakan terlalu banyak, dapat menjadikan kelebihan pakan sehingga pakan yang tidak termakan akan mengendap dan mulai mencemari air. Oleh sebab itu, perlu diperhatikan kebersihan air agar tidak terlalu banyak mengandung amoniak yang dihasilkan sisa makanan yang mengendap tersebut. Dengan begitu, benih tersebut akan dapat mencapai ukurang panjang yaitu 2,5 cm (1 inchi).

Syarat Hidup Lobster Yang Harus Diketahui Pembudidaya

Syarat Hidup Lobster Yang Harus Diketahui Pembudidaya

Urbanina.com – Memelihara lobster tidaklah dapat dilakukan tanpa ilmu yang memadahi. Seorang pembudidaya harus memiliki pengetahuan yang cukup agar proses budidaya dapat berlangsung dengan lancar sesuai rencana. Sebagai gambaran, membudidayakan lobster adalah memelihara lobster yang pada dasarnya adalah hewan liar yang sebenarnya hidup di alam liar dengan sendirinya secara alami. Namun, karena hewan liar tersebut berpindah hidup di alam yang dibuat pembudidaya, maka hidup hewan liar tersebut berubah menjadi bergantung pada pembudidaya. Jika pembudiaya dapat memberlakukan lobster dengan benar maka hewan tersebut akan dapat hidup dengan baik, namun akan berbeda jika sebaliknya. Pembudidayaan yang salah akan mengakibatkan kehidupan lobster tidak normal atau bahkan bisa mati. Itulah gambaran kecil dari Urbanina tentang pentingnya bagi pembudidaya untuk memahami syarat hidup lobster yang mereka budidaya.

syarat hidup lobster

Berikut ini adalah beberapa syarat hidup lobster yang dilihat dari kualitas air. Adapun kualitas air ini meliputi 3 hal sebagai berikut.

  1. Suhu / temperatur air

Temperatur air dapat diukur menggunakan alat yang bernama termometer. Suhu yang terkendali menjadi salah satu syarat hidup lobster meskipun lobster memiliki sifat toleran terhadap suhu diatas 35 derajat C. Untuk pemeliharaan di daerah tropis, suhu yang dianjurkan untuk memelihara lobster adalah antara 24-30 derajat C. Sedangkan untuk memperoleh pertumbuhan optimum diperlukan suhu antara 25-29 derajat C.

  1. pH dan kesadahan air

Syarat hidup lobster yang kedua adalah kadar pH dan kesadahan air yang terjaga. Untuk membudidayakan lobster, disarankan untuk menjaga angka pH pada angka 7-9. Hal ini berdasar pada penelitian yang menunjukan bahwa lobster hidup dengan baik di perairan tawar dengan anga pH tersebut. Selain itu, jarang ditemui lobster yang hidup di perairan yang memiliki pH dibawah angka 7. Untuk tingkat kesadahan air, lobster memerlukan kesadahan air yang sedang hingga tinggi. Kesadahan pada tingkat tersebut diteliti dapat menjaga kandungan kalsium terlarut agar tetap tinggi sehingga menjamin pembentukan cangkang lobster setelah terjadinya proses molting.

  1. Kualitas air lainnya

Kualitas air lainnya ini didasarkan dari berbagai laporan penelitian yang dilakukan di berbagai daerah tempat hidup lobster. Salah satunya adalah dari dua hasil penelitian berikut ini. Di Indonesia, dimana lobster ditemukan hidup di perairan air tawaar seperti Danau Klarifiet dan Sungai Ayamoro di Papua, kualitas airnya adalah sebagai berikut; memiliki kandungan oksigen terlarut antara 3-5 ppm, karbondioksida antara 30-44 ppm, pH antara 6,7-7,8, suhu air 18-22 derajat C, kesadahan air 82-112 ppm CaCO3 dan amonia yang terkandung kurang dari 1,2 ppm.

Sedangkan penelitian di Australia dilakukan di perairan seperti rawa, danau atau sungai dengan hasil sebagai berikut; memiliki kandungan oksigen terlarut antara 3-5 ppm, karbondioksida antara 50-60 ppm, pH 6,5-8,5, suhu air 24-30 derajat C, kesadahan air 100-120 ppm CaCO3 dan amonia sebanyak 0,2 ppm. Dan penelitian tersebut menunjukan bahwa lobster air tawar cukup sensitif terhadap kadar klorin tinggi. Dengan begitu, disarankan agar mengendapkan air terlebih dahulu sebelum menggunakan air tersebut untuk memelihara lobster.

Lobster juga diteliti memiliki kemampuan untuk mengakumulasikan merkuri (Hg) dalam tubuhnya, sehingga hewan air tawar ini sering dijadikan indikator pencemaran lingkungan. Dan, lobster juga sensitif terhadap pestisida, terutama golongan organoklorin, begitu pula terhadap residu-residu minyak. Dari sifat lobster tersebut, pembudidaya tentu harus memperhatikan sumber air yang digunakan untuk membudidayakan lobster ini, terutama pada pembudidayaan di tempat terbuka. Dengna kata lain, kebersihan air juga perlu diperhatikan untuk membudidayakan lobster.

Peralatan Budidaya Lobster Untuk Memuluskan Budidaya

Peralatan Budidaya Lobster Untuk Memuluskan Budidaya

Urbanina.com – Budidaya lobster dapat dibudidayakan di Indonesia dengan potensi keberhasilan yang sangat besar, bahkan lebih besar dari usaha budidaya yang dilakukan di Australia. Hal ini tentu dikemukakan berdasarkan landasan yang kuat. Telah dilakukan penelitian terhadap pertumbuhan kehidupan lobster yang dilakukan oleh para ilmuwan. Hasilnya adalah, iklim di Indonesia bisa dibilang sangat cocok untuk memperoleh pertumbuhan yang maksimal pada udang lobster. Kehidupan lobster di Australia yang hanya dapat bertelur sebanyak 2 kali dalam setahun, masih kalah produktif dengan lobster yang dilakukan penelitian di Indonesia. Di Indonesia tersebut udang lobster dapat bertelur dari 2 kali leboh banyak dari pada dipelihara di Australia, yaitu sebanyak 4-5 kali dalam setahun. Namun, dalam upaya budidaya lobster juga harus didukung oleh peralatan budidaya lobster yang lengkap sehingga mampu mengakomodasi seluruh kebutuhan lobster untuk tumbuh.

peralatan budidaya lobster

Kali ini, Urbanina akan membahas mengenai peralatan budidaya lobster yang lengkap yang dapat digunakan untuk proses awal hingga akhir pada budidaya lobster. Peralatan budidaya lobster memanga terhitung banyak, namun semua itu memiliki peran masing-masing untuk setiap tahapan budidaya. Jadi, tidak perlu menghitung seberapa banyak alat peralatan budidaya lobster yang dibutuhkan, karena semuanya diperuntukkan untuk satu tujuan yaitu memperlancar dan mempermudah proses budidaya. Tanpa peralatan yang lengkap, maka budidaya lobster yang memiliki potensi besar di Indonesia tersebut akan sulit terwujud. Sehingga dapat disimpulkan bahwa peralatan budidaya juga memegang peranan penting pada budidaya lobster. Berikut ini adalah beberapa peralatan budidaya lobster yang perlu disiapkan.

  1. Aquarium

Biasanya aquarium memiliki ukuran 100 x 50 x 25cm. Pada umumnya, aquarium digunakan untuk memelihara ikan hias, namun benda ini memiliki fungsi khusus pada usaha budidaya lobster ini. Aquarium memiliki fungsi yang penting yaitu untuk tempat pemijahan induk lobster. Karena satu aquarium hanya berisikan 8 induk lobster, pembudidaya diharapkan menyiapkan aquarium dalam jumlah yang banyak. Selain untuk tempat pemijahan induk lobster, aquarium juga digunakan untuk tempat pengeraman atau penetasan telur dan pembesaran anakan lobster.

  1. Aerator

Aerator yang dibutuhkan untuk budidaya lobster ini berfungsi untuk menyediakan oksigen terlarut bagi lobster yang dipelihara di aquarium. Jika orang melihat ikan hias yang dipelihara didalam aquarium, didalam aquarium akan ada gelembung udara yang mana gelembung udara tersebut dihasilkan oleh aerator. Gelembung udara tersebut menyediakan oksigen terlarut yang dibutuhkan ikan hias. Begitu juga lobster, lobster juga membutuhkan oksigen terlarut yang cukup agar dapat tumbuh dengan optimal sehingga memerlukan aerator untuk upaya budidaya lobster.

  1. Shelter

Shelter dalam bahasa lain adalah tempat persembunyian, yaitu bagi lobster yang dipelihara. Hal ini dibutuhkan untuk menyesuaikan terhadap tingkah laku dari lobster yang sering berdiam diri ketika siang hari. Sehingga lobster memerlukan tempat persembunyian atau shelter tersebut. Shelter juga digunakan lobster ketika terjadi pergantian kulit yang disebut molting.

Untuk membuatkan shelter bagi lobster, dapat menggunakan batu bata yang disusun atau juga bisa menggunakan roster yang banyak dijual di toko bangunan. Pembudidaya juga dapt menggunakan tatakan telur, paranet /waring, atau pipa peralon yang disusun untuk dijadikan shelter bagi lobster ini. Tanaman air seperti tanaman enceng gondok juga efektif untuk dijadikan shelter.

  1. Box filter

Box filter adalah kotak yang berisikan batu zeloit dan batu arang. Batu zeloit berfungsi untuk menyerap kandungan ammonia dalam air, sedangkan batu arang berfungsi untuk menjernihkan air. Dengan begitu air akan selali jernih dan tidak banyak mengandung ammonia.

Demikian tadi peralatan yang diperlukan untuk budidaya lobster, untuk peralatan lain seperti kolam pemeliharaan akan kami bahas pada artikel berikutnya. Kolam tersebut dapat dikategorikan kedalam media pemeliharaan pada bahasa budidaya lobster.

Proses Pemijahan Lobster Budidaya Di Aquarium

Proses Pemijahan Lobster Budidaya Di Aquarium

Urbanina.com – Pemijahan lobster termasuk dalam langkah yang ditempuh untuk membudidayakan lobster. Pembudidaya tentu sudah tahu bahwa fungsi dari langkah pemijahan ini adalah agar didapatkan benih unggul yang dapat dipelihara dengan dibesarkan nantinya. Oleh sebab itu, pembudidaya sangat teliti dalam memilih induk lobster yang nantinya akan dipijahkan ini. Selain karena faktor pemilihan induk, pemijahan lobster juga dipengaruhi oleh bagaimana induk tersebut dipelihara dengan baik ataukah tidak. Selain dari dua proses pemijahan lobster diatas, kali ini Urbanina akan membahas bagaimana proses pemijahan lobster dari awal hingga akhir.

pemijahan lobster

Pemijihan lobster dapat dilakukan di aquarium ukuran sedang yang biasa digunakan untuk memelihara ikan. Aquarium yang diperlukan memang tidaklah terlalu besar karena tidak membutuhkan pemijahan ini tidak memerlukan area yang terlalu besar. Biasanya, ukuran aquarium yang banyak dipakai adalah ukuran 100 x 50 x 20 cm, dengan lobster yang ditebar adalah 5 induk jantan dan 4 indi. Untuk menyiapkan aquarium yang dibutuhkan untuk memijahkan induk lobster ini, perlu diperhatikan dimana aquarium tersebut diletakkan. Penempatan aquarium yang baik adalah di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung, dan juga tempat yang memiliki suasana teduh dan tenang. Dengan tempat yang sesuai ketentuan tadi, akan lebih dapat merangsang lobster dlam melakukan pemijahan atau perkawinan. Tempat tersebut juga akan merangsang agar lobster mau mengerami telur yang dihasilkan setelah perkawinan.

Pemijahan yang terjadi pada lobster ini terjadi secara alami. Sehingga pembudidaya tinggal menempatkan induk jantan dan betina pada tempat yang sama kemudian lobster akan melakukan pemijahan dengan sendirinya secaara alami. Dalam hal ini, pembudidaya menggunakan aquarium untuk tempat pemijahannya. Jadi, langsung saja letakkan induk jantan dan betina yang benar-benar siap untuk melakukan pemijahan. Adapun perbandingan jumlah induk jantan dan betina yang ditempatkan di aquarium yang sama adalah 3:5, yaitu 3 ekor untuk induk jantan dan 5 ekor untuk induk betina. Jumlah tersebut adalah untuk aquarium yang berukuran 100 x 50 x 25cm dengan ketinggian air 20 cm.

Meskipun induk lobster melakukan pemijahan secara alami, namun pembudidaya tidak bisa hanya membiarkan saja induk yang hidup di aquarium pemijahan tersebut. Para induk lobster tetap membutuhkan makanan yang hanya didapat dari pembudidaya. Pemberian pakan dapat dilakukan pembudidaya dengan dosis seperti biasanya. Hanya saja, akan lebih baik jika memberi pakan yang banyak mengandung protein. Karena, dengan konsumsi protein dari pakan tersebut dapat mempercepat pematangan gonad dan induk akan terangsang untuk melakukan pemijahan. Pakan yang banyak terkandung protein dapat ditemui pada cacing tanah, cacing sutera dan lain sebagainya.

Pembudidaya tetap harus mengontrol kondisi induk lobster setelah terjadi pemijahan atau perkawinan. Setelah 19 hari setelah terjadi perkawinan, atau 4 hari setelah telur keluar semua, telur akan berwarna kuning. Kemudian, pemijahan telur akan mengubah warna telur menjadi berwarna orange. Pada pekan keempat, akan muncul bintik-bintik hitam, dan pada pekan kelima atau keenam, telur yang telah dierami akan menetas. Namun, benih hasil dari telur yang menetas tersebut tidak dapat langsung  keluar dari tubuh induknya. Biasanya, anakan lobster tersebut akna keluar dari tubuh induknya setelah berumur 4-5 hari.

Proses melepasnya anakan lobster dari induknya tersebut dapat terjadi secara alami. Namun, untuk mengantisipasi sifat kanibalisme induk lobster terhadap anaknya, pembudidaya dapat membantu proses keluarnya benih lobster hanya setelah benih yang keluar dari tubuh induknya telah mencapai 20-30%, yang biasa terjadi pada pekan keenam. Caranya, dengan merontokkan anakan lobster pada tubuh induk betina. Kemudian, induk tersebut akan melakukan perlawanan dengan mengibas-ibaskan ekornya dan mengerak-gerakkan kakinya, sehingga mengakibatkan anakan lobster akan lepas dari iniduknya.

Cara Memelihara Induk Lobster Dengan Benar

Cara Memelihara Induk Lobster Dengan Benar

Urbanina.com – Pada dasarnya, setiap pekerjaan perlu dilakukan dengan benar sesuai dengn prosedurnya. Namun, ketika memelihara induk lobster, perlu dilakukan dengan benar karena pembudidaya juga akan memperoleh timbal balik nantinya. Pemeliharaan yang baik terhadap induk setelah susah payah memilihnya adalah langkah yang perlu dilakukan pembudidaya dalam upaya membudidayakan lobster agar dapat menjual lobster yang disukai pelanggan. Lobster yang disukai pelanggan tentu hanya jika pembudidaya berkenan memelihara induk lobster denganb aik sehingga mengahsilkan keturunan lobster yang berkualitas dari segi daging, ukuran, dan sebagainya. Lalu, seperti apa cara memelihara induk lobster ini? Simak penjelasannya dari Urbanina berikut ini.

memelihara induk lobster

Untuk memelihara induk lobster dengan benar, diperlukan teknik pemeliharaan induk yang benar sekaligus mudah dipraktikan oleh pembudidaya. Induk lobster unggulan telah memiliki standar ukuran yang disepakati, sehingga pembudidaya dapat mengukurnya sendiri. Standar induk lobster unggulan akan dapat diperoleh dengan mudah oleh pembudidaya jika dapat memilih calon induk dengan benar dan dapat mengelola induk lobster dengan benar. Memilih induk dengan benar dapat dibaca pada artikel kami sebelumnya, dan untuk memelihara induk dengan benar ada ilmu dari seorang ahli yang bernama Cormack.

Pada tahun 1994, beliau menyatakan bahwa induk lobster yang unggul harus memiliki beberapa kriteria yaitu harus sudah berumur 6-7 bulan, belum mengalami reproduksi dan memiliki panjang tubuh total lebih dari 20 cm. Pernyataan Cormack ini juga menjadi rujukan kami dalam menulis cara pemilihan calon induk lobster di artikel sebelumnya. Pernyataan beliau tersebut didasarkan pada fakta bahwa ada korelasi positif antara jumlah telur yang dihasilkan dan ukuran panjang total. Yaitu, semakin panjang induk, semakin banyak pula telur yang dihasilkan.

Juga ditahun 1994, Cormack dan Jones mennyatakan hal yang berkaitan dengan cara yang benar untuk memberi pakan induk lobster ini. Karena mereka adalah seorang ahli, tentu perkataannya ini diutarakan berdasar pada fakta dari hasil penelitian. Berikut ini adalah inti dari apa yang mereka katakan, bahwa pakan yang diberikan untuk induk lobster ini sebaiknya memiliki kandungan protein sebanyak 40% dan karbohidrat sebanyak 10-15%. Alasannya, bahwa kandungan protein dan karbohidrat yang terdapat didalam pakan tersebut memiliki khasiatyang baik untuk dapat meningkatakan peluang mendapatkan lobster dengan jumlah yang banyak serta telur dengan kualitas yang tinggi.

Seperti yang disarankan, bahwa setelah umur dua bulan lobster perlu diberi pakan berupa pakan pelet komersial. Untuk mendapatkan kandungan protein dan karbohidrat yang lebih, dapat dilakukan dengan memberikan pakan tambahan berupa udang yang dicincang. Udang yang dicincang tersebut bisa diberikan secara bersamaan dengan pakan pelet komersial yang dihaluskan. Pemberian pakan ini dilakukan sebanyak 2 kali sehari. Karena bersifat kanibal, perlu dilakukan tindakan antisipasi dari pembudiaya agar kematian lobster yang dipelihara dapat dihindari. Tidakan antisipasi dapat dilakukan dengan memberikan pakan dengan persentasi pakan malam yang lebih banyak, yaitu 75% pakan untuk malam hari dan 25% pakan untuk pagi hari.

Selain dengan pemberian pakan dengan mengantisipasi sifat kanibalisme dari lobster yang sipelihara, juga diperlukan air dengan kualitas yang baik sebagai tempat tinggal dan lingkungan yang baik untuk lobster. Air dengan kualitas baik tersebut adalah air yang suhunya terjaga antara 24-30 derajat C. Juga tidak lupa untuk dapat menjaga pH air agar tetap berkisar pada angka 6-8, serta kadar oksigen terlarut agar minimal di angka 5 ppm.

Cara Pemilihan Induk Lobster Untuk Dipijahkan

Cara Pemilihan Induk Lobster Untuk Dipijahkan

Urbanina.com – Pemilihan induk lobster dilakukan agar didapatkan induk dengan kualitas yang terbaik. Kualitas yang terbaik ini memang hanya didapatkan dari proses pemilihan induk lobster yang benar dari pembudidaya. Dengan induk yang berkualitas, maka akan didapat anakan lobster yang berkualitas pula, sehingga dapat memuaskan permintaan pasar. Permintaan pasar pada umumnya digunakan untuk memenuhi menu olahan di restoran atau warung makan. Olahan lobster yang tersedia di restoran memang memiliki rasa yang khas dan mendapat tempat di hati pelanggan restoran tersebut. Sehingga, meskipun menu olahan lobster ini memiliki harga yang mahal, tetapi tetap saja banyak orang yang menyukainya.

pemilihan induk lobster

Bagi pembudidaya, penting untuk mengetahui bagaimana cara pemilihan induk lobster yang benar. Maka dari itu, kali ini Urbanina akan membahas tentang bagaimana pemilihan induk lobster yang benar tersebut. Langsung saja, pada proses pemilihan induk ini dilakukan pemilihan terhadap induk jantan dan betina saja, yang berkelamin intersex tidak perlu diseleksi. Seperti yang telah tertulis pada artikel sebelumnya, ciri dari lobster jantan adalah terdapat tonjolan di dasar tangkai kaki jalan ke-5 jika dihitung dari kaki jalan dibawah mulut. Sedangkan lobster betina dapat dikenali bila terdapat lubang bulat di dasar kaki ke-3.

Sebuah praktik yang telah sdilakukan di Austrlia berikut ini bisa menjadi teladan bagi para pembudidaya lobster di Indonesia. Langsung saja, berikut adalah cara memilih induk yang berkualitas yang tentu dilakukan dengan tidak mudah.

  1. Pertama-tama, tebarkan 10.000 ekor benih lobster air tawar yang berusia 15 hari pada kolam seluas 1.000 meter persegi dengan kedalaman air 50cm.
  2. Ketika lobster tersebut berusia dua bulan, mulailah diberi pakan yang berupa pelet komersial.
  3. Dari pemeliharaan tersebut, dihasilkan hasil panen sebanyak 6.000 ekor lobster dengan bobot rata-rata 9,2 gram.
  4. Kemudian, lobster yang berbobot lebih dari 9,2 gram, sebanyak 50% dimasukkan kembali ke kolam yang sama. Dan yang tertebar, sebanyak 3.000 ekor dengan bobot rata-rata 10,8 gram.
  5. Setelah dilakukan pemeliharaan yang seperti pada pemeliharaan pertama, dihasilkan panen sebanyak 2.000 ekor dengan berat rata-rata 16,8 gram.
  6. Hasil panen tersebut diseleksi kembali lobster yang memiliki bobot rata-rata 18,1 gram sebanyak 500 ekor atau 25% dari hasil panen. Kemudian, hasil seleksi tersebut dipelihara kembali didalam kolam yang sama.
  7. Pemeliharaan yang dilakukan adalah selama 2 bulan, atau 6 bulan jika pemeliharaan yang awal-awal tadi ikut dihitung, lalu dilakukan pemanenan.
  8. Hasil panen kemudian diseleksi menurut jenis kelamin dan panjang lobsternya. Dan hasilnya, didapat 162 ekor lobster jantan dan 122 ekor lobster betina dengan bobot rata-rata 22,4 gram. Lobster yang seperti inilah jenis lobster yang berkualitas untuk dijadikan calon induk.

Sebenarnya orang dapat belajar dari apa yang telah dilakukan di Australia ini. Pembelajaran yang sedikit lebih lama akan lebih baik dari pada langsung melakukan pemilihan induk secara cepat, tetapi tidak didapat induk yang berkualitas. Mendapatkan calon induk ini tak jarang dilakukan setelah mendapatkannya dari toko atau pasar ikan. Maka perlu dilakukan pemilihan induk sebagai berkut.

Jika semisal didapatkan 100 ekor lobster air tawar dari toko, perlu ditanyakan umurnya serta hasil tangkapan atau hasil produksi sendiri. Maka, perlu dilakukan seleksi ukuran panjang total yang didasarkan umur. Kriteria seleksinya juga harus baik dengan patokan 25% yang terbaik dari individu dalam populasi, yang dilakukan 3 kali. Misalnya, untuk ukuran panjang total, perlu diambil 25% yang memiliki panjang  total tertinggi yang diukur selama 3 kali. Juga tidak lupa untuk mengecek kelengkapan organ tubuh yang dimiliki calon induk lobster ini.