Ciri Ciri Ikan Patin Jantan dan Betina

Ciri Ciri Ikan Patin Jantan dan Betina

Urbanina.com – Ikan Patin (Pangasianodon hypophthalmus) merupakan jenis ikan yang amat disukai sebab rasa dagingnya memang lezat. Maka dari itu memelihara ikan patin menjadi peluang bisnis yang memberi harapan dalam budidaya ikan. Guna menjalankan budidaya ikan patin, Anda terlebih dulu mesti melaksanakan pembenihan. Untuk menyelenggarakan pembenihan, Anda pun mesti melaksanakan seleksi indukan terlebih dulu. Namun apa ciri ciri ikan patin jantan dan betina?

Di Indonesia, ikan patin terkenal sebagai komoditi yang mempunyai prospek cerah untuk dibudidayakan. Selain gampang untuk dipelihara juga mempunyai nilai jual yang tinggi. Hal inilah yang menjadikan ikan ini mendapatkan perhatian dari masyarakat dan banyak digemari oleh para pebisnis ikan untuk dikembangkan.

Ciri Ciri Ikan Patin Jantan dan Betina

Telah menjadi rahasia umum bila patin merupakan ikan yang tak dapat dipijahkan dengan cara alami, namun secara buatan. Oleh karenanya, pemilihan induk pun tidak dapat asal-asalan perlu pengetahuan tersendiri. Anda harus mengetahui ciri ciri ikan patin jantan dan betina untuk kepentingan pemilihan induk, pemijahan, penetasan, dan pemeliharaan larvanya.

Ciri ciri Ikan Patin Jantan dan Betina

Kelamin jantan dan betina setiap hewan bisa dibedakan dengan jelas, termasuk ikan patin. Tentunya terlebih dahulu harus dipelajarinya dengan melihat dari dekat beberapa tanda pada tubuh ikan bersangkutan. Untuk yang sudah paham, membedakan jantan dan betina tidak harus dari dekat, tetapi dari jauh saja sudah cukup.

Seperti hewan yang lainnya, patin bisa dibedakan dengan melihat tanda-tanda pada tubuh bagian luar. Buat membedakan kedua jenis kelamin tersebut bisa dilihat dari alat kelamin, warna kulit, dan bentuk tubuhnya. Pada organ tubuh tersebut akan jelas sekali apa perbedaannya.

Ikan patin tidak seternar ikan gurame, ikan lele dan ikan mas, namun budidaya ikan patin merupakan favorit khusus untuk sekarang ini.

Perbedaan Induk Ikan Patin Jantan dan Betina

Sebelum Anda lakukan pembenihan ikan patin, membedakan jenis kelamin merupakan hal penting untuk siapa pun yang akan terjun dalam budidaya ikan patin ini.

Sebenarnya perbedaan ikan patin bisa dilihat dari tanda-tanda fisiknya. Berikut ini ciri ciri ikan patin jantan dan betina yang diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Patin jantan ditandai dengan bentuk tubuhnya yang panjang dan ramping, warna kulitnya cerah sedikit kemerahan, dan mempunyai sebuah alat kelamin yang bentuknya panjang. Patin jantan bila telah matang gonad pada alat kelaminnya akan berwarna memerah dan sedikit menggembung. Disamping itu, bila alat kelaminnya diurut/pencet akan menghasilkan cairan dengan warna putih susu.
  1. Patin betina bisa ditandai dengan bentuk tubuhnya yang gemuk dan sedikit pendek, warna kulitnya sedikit kusam dan lebih halus, serta mempunyai dua lubang di bagian pengeluaran. Kedua lubang itu berguna untuk megeluarkan urin dan telur.

Patin betina yang telah siap matang gonad bisa ditandai dari bentuk perutnya yang membuncit, permukaan kulitnya lebih lembut dan jika diurut/dipencet akan mengeluarkan telur yang memiliki warna kecokelatan.

Cara Membedakan Ikan Patin Jantan Dan Betina

Cara Membedakan Ikan Patin Jantan Dan Betina

Urbanina.com – Ikan patin (Pangasius spp) adalah salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Permintaan ekspor dan permintaan lokal terhadap ikan patin makin meningkat setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan daging ikan patin mengandung protein dan kalori yang lumayan tinggi, gurih, lezat, enak, dan rasa dagingnya khas. Ikan ini dianggap lebih aman buat kesehatan sebab rendah kadar kolesterolnya ketimbang dengan daging ternak. Keunggulan ini membuat ikan patin menjadi salah satu primadona perikanan tawar. Anda perlu mengetahui cara membedakan ikan patin jantan dan betina saat ingin membudidayakannya agar hasilnya maksimal.

Ikan patin merupakan ikan perairan tawar yang tergolong ke dalam keluarga pangasidae dengan nama umumnya yaitu catfish. Populasi di alam bebasnya ikan ini dijumpai di sungai-sungai besar di daerah sebagian Jawa, Kalimatan dan Sumatera. Di wilayah penyebarannya itu di Indonesia ada kira-kira 14 jenis ikan patin. Kecuali di Indonesia, ikan patin pun banyak ditemui di wilayah Asia seperti di China, Thailanda dan Vietnam. Diantara jenis-jenis patin itu yang sudah sukses dibudidayakan ialah dua spesies, yaitu patin jambal (Pangasius djambal) dan ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus). Selain itu ada patin pasupati (Pangasius sp) yang merupakan hasil persilangan (hibrida) antara patin jambal jantan dengan patin siam betina.

Cara Membedakan Ikan Patin Jantan dan Betina 2

Cara membedakan ikan patin jantan dan betina dapat dilihat dari berbagai aspek. Sebelumnya kita ketahui dulu ciri-cirinya. Ikan patin mempunyai badan memanjang dengan warna putih seperti perak dan punggungnya memiliki warna kebiru-biruan. Panjang tubuhnya dapat mencapai hingga 120 cm, sebuah ukuran yang lumayan besar untuk ukuran ikan air tawar dalam negeri. Kepala patin cukup kecil dengan mulut berada di ujung kepala sedikit di sebelah bawah. Hal ini menjadi ciri khas kelompok catfish. Pada sudut mulutnya ada 2 pasang kumis pendek yang berguna sebagai peraba. 

Jantan dan betina tiap-tiap hewan bisa dibedakan dengan jelas, termasuk patin. Tentunya sebelumnya mesti dipelajari terlebih dulu dengan memperhatikan dari dekat beberapa tanda pada tubuh ikan itu. Untuk yang telah paham, membedakan jantan dan betina tidak mesti dari dekat, namun dari jauh saja telah cukup. Cara membedakan ikan patin jantan dan betina tidak jauh berbeda dengan cara yang digunakan pada jenis ikan lainnya.

Induk jantan dicirikan dengan ukuran tubuh yang relatif lebih kecil dan ramping dari yang betina serta panjang, kulit berwarna cerah sedikit kemerahan, mempunyai 1 alat kelamin berbentuk panjang. Bagian punggungnya reltif rata. Pada jantan berumur matang, kelaminnya berwarna memerah dan sedikit menggembung. Disamping itu jika diurut kadang-kadang cairan yang warnanya putih susu keluar.

Sedangkan induk betina dicirikan dengan ukuran tubuh relatif lebih besar dari yang jantan. Bagian punggungnya sedikit bongkok dan bagian perutnya relatif besar, tubuh gemuk dan pendek, kulit berwarna sedikit kusam dan lebih halus, serta mempunyai dua alat kelamin, satu untuk mengeluarkan telur dan satunya lagi untuk mengeluarkan air kencing. Pada induk yang telah matang bisa dicirikan dengan perutnya yang gendut, permukaan kulitnya lebih lembut, jika diurut kadang-kadang keluar telur berwarna kecoklatan.

 

 

Panduan Singkat Untuk Pemanenan Ikan Patin

Panduan Singkat Untuk Pemanenan Ikan Patin

Urbanina.com – Pemanenan ikan patin bukanlah akhir dari proses budiaya ikan patin, melainkan salah satu tahapan budidaya ikan patin yang mendekati akhir dari rangkaian budidaya ikan patin ini. Karena merupakan salah satu tahapan budidaya, maka peran dari pembudidaya sangat diperlukan pada tahap ini seperti halnya pada tahap-tahap budidaya sebelumnya. Memang harus diakui bahwa ketika melakukan pakerjaan pada tahap ini akan terasa lebih ringan. Tidak sedikit pembudidaya yang diwaktu pagi telah senyum-senyum sendiri saat berkaca menyisir rambutnya. Tidak lain adalah karena hari itu adalah hari dimana telah dijadwalkan untuk pemanenan ikan patin yang telah lama ia pelihara. Dan pada kesempatan kali ini, dengan senang hati Urbanina akan memberikan panduan singkat mengenai pemanenan ikan patin ini.

pemanenan ikan patin

Secara garis besar, pada tahapan pemanenan ikan patin ini diperlukan dua jenis pekerjaan yaitu penangkapan ikan dan pembersihan ikan. Penangakapan ikan adalah upaya untuk menangkap seluruh ikan patin yang selama ini dipelihara didalam kolam yang tentunya siap panen. Sedangkan pembersiha ikan adalah upaya untuk membersihkan tubuh semua ikan yang telah dipanen setelah tumbuh di lingkungan kolam pembesaran. Pembersihan ini bukan berarti bahwa ikan patin tersebut dipelihara di lingkungan kolam yang membuat daging ikan patin menjadi kotor. Namun, daging ikan tersebut tetap bersih dan enak, hanya saja pembersihan dimaksudkan untuk membuat agar badan ikan tampak bersih sehingga konsumen atau pembeli ikan patin ini mendapatkan ikan yang bersih.

Untuk dapat melakukan penangkapan ikan patin dengan tepat, sebaiknya tidak menggunakan jala apung. Penggunaan jala apung dikhawatirkan akan membuat ikan mengalami luka-luka di badannya. Untuk itu, lebih baik jika dilakukan penangkapan ikan dengan metode mulai dari hilir, diakhiri di hulu. Penggunaan kere justru lebih baik dari pada menggunakan jala apung. Dengan menggunakan kere, pembudidaya dapat menggiring sekumpulan ikan dari hilir agar terus bergerak ke hulu. Metode yang satu ini selain tidak membuat ikan mendapat luka-luka, juga membuat ikan terus mendapatkan air yang segar sehingga terhindar dari kematian.

Itulah teknik penangkapan ikan patin yang dipelihara. Sedangkan untuk teknik pemberihan ikan patin yang dipanen dapat dilakukan dengan cara yang lebih sederhana. Singkat saja, untuk membersihkan ikan patin yang telah ditangkap ini dapat dilakukan dengan meletakkan ikan tersebut ke wadah dengan air yang bersih. Wadah dapat berupa ember atau barang lain yang kuat menampung massa ikan patin.

Hasil pemanenan ikan patin yang baik adalah ikan patin yang berkualitas, baik secara ukuran badan maupun pemampakan fisik. Untuk mendapatkan panen ikan patin yang berkualitas, pembudiaya harus memperhatikan sikap yang ia tunjukkan ketika melakukan pemanenan. Jumlah ikan yang dipanen biasanya berjumlah banyak dan ukurannya besar, sehingga akan melelahkan pembudidaya bila tiba masa panen. Namun, pembudidaya tidak diperbolehkan bersikap tergesa-gesa terhadap ikan patin yang dipanen. Kehati-hatian sangat diperlukan ketika melakukan pemanenan pada ikan patin, karena tubuh ikan patin ini tergolong mudah terluka. Apabila badan ikan sampai terluka, maka harga ikan tentu juga akan lebih rendah dari pada ikan yang badannya mulus.

Demikian adalah penjelasan singkat tentang pemanenan pada ikan patin. Biasanya, ikan patin dapat dipanen setelah masa pemeliharaan selama 5-6 bulan. Pemeliharaan tersebut biasanya diawali dengan benih ikan patin dengan berat badan 8-12 gram per ekor, yang dapat mencapai berat 600-700 gram per ekor ketika dipanen.

Teknik Budidaya Pembesaran Ikan Patin

Teknik Budidaya Pembesaran Ikan Patin

Urbanina.com – Permintaan pasar terhadap ikan patin adalah salah satu penyebab maraknya budidaya ikan patin di beberapa daerah. Di Indonesia, terdapat beberapa daerah yang menjadi sentra perikanan ikan patin ini. Sebut saja Provinsi Jawa Barat, selain menjadi sentra perikanan ikan patin diprovinsi tersebut juga telah berdiri sebuah balai besar yang meneliti tentang seluk-beluk budidaya ikan patin dan ikan air tawar lainnya. Daerah lain yang juga dapat dikunjungi untuk melihat langsung sentra perikanan ikan patin adalah Kalimantan, Lampung dan Sumatera Selatan. Dengan berkunjung ke sentra perikanan, kita akan dapat melihat secara langsung bagaimana proses pembesaran ikan patin yang bernilain tinggi ini. Namun karena perkembangan teknologi, untuk mengetahui tentang bagaimana pembesaran ikan patin ini juga dapat dilakukan dengan menyimak artikel yang ditulis Urbanina pada kesempatan kali ini.

pembesaran ikan patin

Ada beberapa teknik yang perlu dilakukan dengan tekun oleh pembudidaya jika ingin mengalami kelancaran selama pembesaran ikan patin. Beberapa teknik berikut ini sebenarnya tidak terlalu sulit sehingga dapat dilakukan siapa saja asalkan mau belajar. Langsung saja berikut adalah beberapa tekni pembesaran ikan patin yang perlu dilakukan.

  1. Menjaga kualitas air kolam ikan patin

Hal yang menjadi salah satu faktor pertumbuhan ikan patin yang dibudidaya adalah kualitar tempat tinggalnya yang berupa air yang berkualitas. Kualitas air sangat dipengaruhi oleh kejelian pembudidaya itu sendiri. Sehingga, dalam proses pembesaran pada ikan patin sudah sepatutnya jika pembudidaya harus menjaga kualitas air kolam ikan patin. Kualitas air yang baik dapat dilihat dari dua sisi yaitu sisi secara fisika dan kimiawi. Sisi fisika air dapat dilihat dari faktor suhu, kekeruhan air dan warna air. Suhu yang baik untuk ikan patin adalah 26-28 derajat C. Sedangkan air keruh yang optomal biasanya adalah air dengan kedalaman 25-50 cm, sehingga tumbuh plankton yang cukup dan tidak terlalu keruh karena banyaknya partikel tanah.

Lalu, air secara kimiawi dipengaruhi oleh kadar oksigen terlarut, kandungan karbondioksida, nilai pH serta kadar zat-zat beracun. Kadar minimal oksigen terlarut untuk ikan patin adalah 4 miligram/liter air, sedangkan kadar karbondioksidanya harus kurang dari 5 miligram/liter air.

  1. Menjaga pemberian pakan

Kalau dipikir-pikir lagi, kebutuhan pertumbuhan ikan patin ini hampir sama dengan kebutuhan pertumbuhan manusia. Setelah kebutuhan tempat tinggal berupa air yang berkualitas, ikan patin juga membutuhkan pakan yang berkualitas pula. Seperti pada kebutuhan air, kebutuhan pakan ikan patin juga sangat bergantung pada kejelian pembudidaya itu sendiri. Oleh karena itu, penting bagi pembudiaya untuk menguasai teknik pembesaran ikan patin dalam hal pemberian pakan ini.

Teknik pemberian pakan pada ikan patin dilakukan dengan pemberian pakan secara teratur. Pemberian pakan ikan patin dapat dilakukan sebanyak 2 x sehari, yaitu di pagi dan sore hari. Banyaknya pakan yang diberikan pun juga telah ada pedomannya sendiri, yaitu sebanyak 3-5% dari total berat ikan patin yang dipelihara. Sehingga, banyaknya jumlah pakan yang diberikan pasti terus berganti setiap bulannya. Cara yang dapat digunakan untuk menghitung banyaknya pakan tersebut adalah cukup dengan menimbang 10 ekor ikan patin saja sebagai sampling.

Selain pemberian pakan utama, ada baiknya memberi pakan tambahan terhadap ikan patin yang di pembesaran. Pakan tambahan dapat berupa ikan runcah atau sisa bahan makanan dapur yang diberikan setiap 3-4 hari sekali. Pakan tambahan ini akan bermanfaat sebagai makanan perangsang nafsu makan ikan patin.

Cara Lain Untuk Melakukan Pemijahan Ikan Patin

Cara Lain Untuk Melakukan Pemijahan Ikan Patin

Urbanina.com – Pemijahan ikan patin dapat dikatakan memiliki kerumitan tersendiri jika dibandingkan dengan proses pemijahan jenis ikan lainnya. Adakalanya seorang yang ingin membudidayakan ikan patin yang heran ketika mendengar penjelasan dari kawannya tentang pemijahan ikan patin ini. Sempat terpikir di benak orang tersebut, “kenapa menjadi serumit ini ya?”. Namun, sebagai seorang yang memiliki kemauan untuk maju yang teguh tentu tidak akan terus menyerah meskipun menemui sebuah kerumitan atau kesulitan. Justru dia akan menjadikan kerumitan atau kesulitan tersebut menjadi suatu tantangan seperti halnya tantangan untuk mencetak gol ke gawang yang dijaga temannya yang gemuk saat bermain sepakbola dimasa kecilnya. Meskipun takut kalau sampai terpental temannya yang gemuk tersebut, namun akan sangat menyenangkan ketika berhasil mencetak gol ke gawangnya.

pemijahan ikan patin

Kerumitan pada pemijahan ikan patin ini mungkin disebabkan oleh banyaknya tahapan yang perlu dilalui untuk dapat melakukan pemijahan. Selain itu, pemijahan pada ikan patin ini sedikit berbeda dengan pemijahan ikan lainnya sehingga terlihat seperti sesuatu yang baru. Untuk dapat melakukan pemijahan ikan patin, tahapan yang pertama yang perlu dilakukan pembudidaya adalah melakukan persiapan induk ikan patin yang berkualitas. Pembudidaya dapat memperoleh induk yang berkualitas tersebut dengan mencarinya di sungai-sungai atau di perairan lain, juga bisa dengan tinggal membelinya di tempat-tempat yang menjual induk ikan patin tentunya yang berkualitas. Induk ikan patin yang siap dipijahkan adalah induk ikan patin yang memiliki ciri-ciri tertentu. Urbanina telah menulis artikel tentang ciri-ciri induk ikan patin yang siap pijah di artikel sebelumnya.

Setelah mendapatkan induk yang berkualitas, induk harus dirawat agar tetap sehat. Caranya, dengan mengkondisikan kolam serta pemberian pakan yang berkualitas. Sebagai contoh, perawatan dilakukan dengan memelihara ikan patin di kolam dengan kepadatan kolam 4-5 kg per 1 meter persegi, lalu diberi pakan tambahan pelet berprotein 25% dengan jumlah 3%, juga 3 x pemberian pakan utama berupa keong mas serta pakan kijing sebanyak 10% 2 x sepekan.

Selanjutnya, msuk pada proses pemijahan ikan patin yang sebenarnya. Perlu diketahui bahwa ikan patin sulit dipijahkan secara alami, sehingga perlu cara lain untuk memijahkan ikan ini. Cara lain tersebut adalah dengan melakukan pemijahan secara kawin suntik yang dilakukan di kolam pemijahan. Pertama, ambil hormon perangsang dari kelenjar hipofise berwarna putih di bagian otak ikan mas menggunakan pinset dengan hati-hati. Lalu haluskan pada tabung kecil, kemudian campurkan dengan aquades yang bisa dibeli di apotik.

Kedua, suntikkan hormon tersebut ke tubuh ikan betina. Caranya, ambil cairan yang sudah disiapkan tadi kedalam tabung suntik, lalu suntikkan di punggung induk ikan patin betina. Nah, setelah proses pemiijahan ini, telur induk betina akan lebih cepat keluar dari perutnya sehingga bisa dibuahi oleh induk jantan. Setelah masa pembuahan tersebut, biasanya telur akan menetas dalam waktu kurang lebih satu pekan.

Tahapan selanjutnya pun siap untuk dijalankan. Inti dari tahapan selanjutnya ini adalah merawat anakan ikan patin yang baru menetas. Anakan yang berusia 1 hari dapat dipindahkan ke aquarium dengan ukuran misalnya 1×0,5 meter dengan kedalaman air 40 cm dan kepadatan satu aquarium sebanyak 500-700 ekor. Pengondisian aquarium dapat dibantu dengan pemberian aerator untuk menjaga ketersediaan oksigen terlarut. Juga dilengkapi alat pengukur suhu dan lampu neon untuk menjaga suhu ideal yaitu 28-30 derajat C. Jika sudah menginjak umur 5 hari, benih tersebut dapat diberi pakan berupa kuning telur ayam yang direbus. Dan sepekan kemudian diselingi dengan diberi pakan beupa jentik nyamuk. Jika anakan ikan patin tersebut telah cukup kuat untuk dipindahkan, ikan dapat dipindahkan di kolam untuk dilakukan pendederan.

Mengenal Ciri-Ciri Induk Ikan Patin Yang Siap Dipijahkan

Mengenal Ciri-Ciri Induk Ikan Patin Yang Siap Dipijahkan

Urbanina.com – Budidaya ikan patin merupakan adalah salah satu usaha yang dilakukan dengan berbagai tahapan yang sesuai dengan prosedur budidaya. Seorang pembudidaya tidak bisa melakukan budidaya hanya dengan teknik yang sesuai dengan kemauannya saja. Pembudidaya tentu harus belajar tentang budidaya ikan patin ini sebelum memulai budiayanya. Dalam upaya budidaya ikan patin, terdapat salah satu tahapan budidaya yang disebut dengan tahapan pemijahan ikan patin. Pada tahapan tersebut, pembudidaya wajib memahami ciri-ciri induk ikan patin yang siap untuk dipijahkan. Untuk dapat mengetahui ciri-ciri induk ikan patin yang siap untuk dipijahkan, dapat dibaca di artikel yang Urbanina tulis berikut ini.

ciri induk ikan patin

Pembudidaya dirasa perlu mengetahui dan paham tentang ciri-ciri induk ikan patin yang siap untuk dipijahkan agar proses pemijahan ikan patin mendapatkan hasil yang maksimal. Karena, tidak semua induk ikan patin adalah induk yang siap untuk dipijahkan. Sehingga, pembudidaya harus mengetahui cara membedakan yang mana  induk ikan patin yang siap untuk dipijahkan dan yang mana induk ikan patin yang belum siap untuk dipijahkan. Caranya adalah dengan memahami ciri-ciri induk ikan patin yang siap dipijahkan tersebut. Dibawah ini adalah pembahasan lebih jelasnya.

  1. Pada induk betina

Induk ikan patin yang sudah siap dipijahkan juga sering disebut dengan ikan yang sudah matang gonad. Berikut ciri-ciri dari induk betina yang sudah matang gonad. Pertama, jika dilihat secara umum induk ikan patin sudah berumur minimal tiga tahun. Pada usia tersebut, ikan memiliki bobot seberat 1,5-2 kg. Kedua, ciri-ciri induk betina yang sudah matang gonad dapat dilihat dari fisik tubuhnya sebagai berikut.

Induk betina yang siap dipijahkan memiliki perut yang membesar ke arah anus. Perutnya tidak hanya membesar, tetapi juga terasa empuk atau lunak dan halus ketika diraba. Selanjutnya, induk ikan memiliki kloaka yang membengkak dan berwarna merah. Lalu, ciri selanjutnya adalah memiliki kulit pada bagian perut yang lembek serta tipis. Ciri yang terakhir adalah jika ditekan di sekitar kloaka, maka akan keluar beberapa butir telur yang berukuran seragam.

  1. Pada induk jantan

Setelah memahami ciri-ciri induk betina, berikut ini adalah ciri-ciri induk jantan ikan patin yang telah siap untuk dipijahkan. Induk jantan dapat dikatakan siap untuk dipijahkan hanya ketika induk jantan telah berusia minimal dua tahun. Pada usia tersebut, biasanya ikan patin memiliki bobot sekitar 1,5-2 kg. Selain ciri yang umum diatas, pembudiaya juga perlu mengetahui ciri fisik induk yang siap dipijahkan sebagai berikut.

Ciri-ciri yang dilihat dari fisik induk jantan adalah memiliki kulit perut yang lembek dan tipis. Jika diperhatikan, kelamin induk jantan ini terlihat membengkak dan berwarna merah tua. Apabila perut induk jantan ini diurut dengan tangan, maka akan mengeluarkan cairan sperma yang berwarna putih.

Bila ingin memilih induk ikan patin dengan ciri-ciri yang sesuai dengan deskripsi diatas, pembudiaya disarankan agar induk ikan dipelihara secara khusus terlebih dahulu. Dan selama pemeliharaan tersebut induk ikan patin diberi pakan yang banyak mengandung protein. Hal ini disarankan karena pernah dilakukan oleh Sub Balai Penelitian Perikanan Air Tawar Palembang. Sub Balai tersebut memelihara induk ikan patin dengan memberi pakan berprotein serta pakan tambahan berupa ikan runcah sebanyak 10% dari bobot ikan setiap dua pekan sekali. Dan dengan pemeliharaan khusus ini, didapatkan induk ikan patin yang lebih cepat tumbuh menuju induk ikan patin yang matang gonad.

Mengendalikan Penyakit Ikan Patin Yang Dibudidayakan

Mengendalikan Penyakit Ikan Patin Yang Dibudidayakan

Urbanina.com – Selain harus menghadapi serangan hama yang dapat memangsa ikan patin yang dipelihara, pembudidaya juga disibukkan untuk mengawasi ikan patin dari serangan virus maupun bakteri. Serangan dari virus dan bakteri akan menyebabkan ikan patin menderita berbagai penyakit yang bermacam-macam. Namun, pembudidaya dapat bernafas lega karena saat ini telah dilakukan bebagai penelitian yang dapat menyimpulkan berbagai pengendalian terhadap penyakit yang diderita ikan patin peliharaan. Dengan berpegang kepada pedoman pengendalian yang tepat, maka penyakit ikan patin tidak lagi membuat pusing pembudidaya karena penyakit ikan patin tersebut dapat disembuhkan. Dan kali ini, Urbanina akan membahas tentang tema diatas, yaitu tentang bagaimana mengendalikan penyakit ikan patin yang dipelihara, sehingga usaha budidaya ikan patin dapat terhindar dari kegagalan.

penyakit ikan patin

Pertama-tama, akan kami jelaskan secara singkat tentang bagaimana penyakit ikan patin ini dapat mengganggu kesehatan ikan. Menurut penelitian, penyakit ikan patin ini disebabkan oleh dua hal, yaitu disebabkan infeksi dan non-infeksi. Penyakit yang disebabkan infeksi adalah penyakit yang timbul karena gangguan dari organisme patogen. Sedangkan penyakit yang disebabkan non-infeksi adalah penyakit yang timbul karena faktor bukan patogen. Dan penyakit non-infeksi ini termasuk pada penyakit yang tidak menular. Berikut penjelasan tentang macam penyakit tersebut dan cara mengendalikannya.

  1. Penyakit yang disebabkan infeksi

Infeksi yang menyebabkan penyakit ini biasanya berasal dari organisme patoge seperti parasit, jamur, bakteri, dan virus. Beberapa budidaya ikan patin masih mengalami kendala yang disebabkan oleh penyakit infeksi ini. Berdasarkan pengalaman, berikut ini adalah beberapa macam penyakit yang disebabkan oleh infeksi beserta cara pengendaliannya.

1a. Penyakit parasit

Salah satu parasit yang menyebabkan penyakit ikan patin adalah dari bangsa protozoa dari jenis Ichthyoptirus multifilis Foquet. Jenis parasit ini akan menyebabkan ikan patin memiliki penyakti yang bernama penyakit white spot atau bintik putih. Sesuai nama penyakitnya, gejala yang ditimbulkan adalah adanya bintik berwarna putih pada lapisan lendir kulit. Untuk dapat mengendalikan penyakit ikan patin ini, dapat dilakukan dengan cara berikut ini.

Siapkan metil biru atau methilene blue konsentrasi 1%, dengan dosis satu gram metil biru untuk dilarutkan pada 100 cc air. Kemudian ikan yang sakit ditempatkan pada bak air bersih, dilanjutkan ditempatkan di larutan metil biru tersebut. Biarkan ikan berada di larutan tersebut selama 24 jam. Pengobatan ini dilakukan berulang-ulang sebanyak tiga kali dengan selang satu hari.

1b. Penyakit jamur

Penyakit jamur banyak ditemui pada ikan yang memiliki luka badan sebelumnya. Luka yang tidak kunjung sembuh ditambah dengan air yang tidak bersih mengakibatkan jenis jamur yang bernama Saprolegnia sp dan Achlya sp dapat dengan menyerang kesehatan ikan. Gejala yang timbul adalah adanya beberapa benang halus seperti kapas, berwarna putih hingga kecoklatan, yang tumbuh pada penutup insang. Penyakit ini dapat dicegah dengan mengkondisikan air kolam tetap bersih.

Untuk pengobatannya, dapat merendam ikan pada larutan malachyt green oxalate sejumlah 2 –3 g/m air (1 liter) selama 30 menit. Ikan yang sakit diobati sebanyak 3 kali selama 3 hari berturut-turut.

1c. Penyakit bakteri

Bakteri yang menyerang adalah bakteri jenis Aeromonas sp. dan Pseudo-monas sp., dan termasuk pada penyakit yang menular. Ikan yang sakit akan mengalami pendarahan pada bagian dada, peut atau pangkal sirip. Pengobatan yang dapat dilakukan adalah dengan merendamnya di dalam larutan kalium permanganat (PK) 10-20 ppm selama 30-60 menit.

  1. Penyakit non-infeksi

Penyakit non-infeksi ini dipengaruhi oleh bukan ptogen, melainkan banyak faktor seperti keracunan makanan maupun karena kekurangan gizi. Gejala yang timbul adalah beragam, diantaranya adalah ikan yang lemas, berenang megap-megap di permukaan air, ikan kurus dengan kepala kelihatan lebih besar, serta kurang lincah. Bila telah parah, ikan akan berenang terbalik dan mati. Untuk dapat mengobatinya, dapat dilakukan menjaga kebersihan air, misalnya mengganti air dengan air yang mengalir agar sisa makanan yang sudah basi dapat keluar dari kolam.

Mewaspadai Serangan Hama Pada Budidaya Ikan Patin

Mewaspadai Serangan Hama Pada Budidaya Ikan Patin

Urbanina.com – Budidaya ikan patin menjadi salah satu usaha yang dapat menhasilkan keuntungan yang besar. Salah satu alasan pembudidaya memilih memelihara ikan patin adalah karena ikan tersebut memiliki harga jual yang cukup tinggi di pasaran. Bila permintaan pasar meningkat, maka harga ikan patin tentu bisa saja lebih tinggi dari pada harga biasanya. Namun, peluang keberhasilan budidaya ikan patin ini tidaklah murni 100% bisa berhasil. Hal ini dikarenakan terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kebehasilan seseorang dalam melakukan usaha budidaya ikan patin. Salah satu faktor yang dapat memperkecil peluang keberhasilan adalah serangan hama pada budidaya ikan patin. Bila seranganhama tersebut tidak diwaspadai, maka bukan tidak mungkin usaha budidaya yang terus dilakukan akan sia-sia, yang berujung pada kerugian yang dialami pembudidaya itu sendiri.

serangan hama pada budidaya ikan patin

Kali ini Urbanina akan membahas tentang bagaimana cara mewaspasai serangan hama pada budidaya ikan patin yang digeluti pembudidaya. Pertama-tama, pembudiaya harus mengetahui hama apa saja yang dapat menyerang ikanpatin yang dibudidaya. Bagi mereka yang membudidayakan ikan patin di kolam tanah atau kolam semen, biasanya ikan patin akan diganggu dengan kehadiran hama semacam ular air, burung, biawak dan juga lingsang. Kebanhakan dari hama yang disebutkan tadi akan memangsa ikan patin yang dibudiayakan untuk menjadi santapan mereka. Berbagai serangn hama pada budidaya ikan patin tersebut akan mempengaruhi keberhasilan budiday karena akan ada ikan yang berkurang karena dimangsa terutama ikan –ikan yang masih kecil.

Maka dari itu, untuk menghindari kerugian pembudidaya harus pandai dalam mewaspadai serangan hama pada budidaya ikan patin tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan pembudidaya adalah dengan selalu siap untuk mengontrol dan mengawasi kolam budidaya dari hama yang berpotensi mengganggu ikan patin yang dipeliharanya. Oleh karena itu, pengontrolan secara berkala dapat mengantisipasi terjadinya serangan hama pada budidaya ikan patin. Sehingga ketika hama dapat masuk ke dalam kolam ikan patin, pembudidaya dapat langsung membuang hama tersebut sejauh-jauhnya agar tidak mengganggu lagi.

Namun, pembudidayaan ikan patin tidak hanya bisa dilakukan di kolam saja. Beberapapembudiday leibh memilih untuk membudidayakan ikan patin di perairan alami dengan menggunakan jaring terapung. Jika sesorang memelihara di perairan dengan cata tersebut, serangan hama pada budidaya ikan patin dapat juga berupa dari hewan air yang ada di perairan tersebut. Beberapa hama yang berasala dari perairan yang mungkin mengganggu kehidupan ikan patin yang dibudidayakan diantaranya kura-kura, udang, ikan seluang dan ikan buntal. Ikan buntal mungkin menjadi hama yang paling mengganggu karena dapat merusak jala apung yang dipasang di perairan yang akhirnya dapat masuk ke jaring apung dan memangsa ikan patin yang dibudidayakan. Sedangkan ikan seluang dapat dikategorikan sebagai hama karena ikan ini berukuran kecil dan dapat mesuk ke tempat tinggal ikan patin melalui lubang jaring apung. Dengan adanya ikan seluang didalamnya, hal ini akan mengganggu ikan patin dalam hal mendapatkan pakan yang diberikan karena ikan seluang akan ikut memakan pakan yang diberikan.

Beberapa jenis burung dapat dikategorikan sebagai hama diantaranya burung bangau, pecuk dan blekok. Ketiga jenis burung tersebut gemar memakan ikan patin yang dipelihara sehingga sangat mengganggu. Untuk itu, salah satu cara mewaspadai serangan hama pada budidaya ikan patin yang satu ini adalah dengan memasang jaring yang diletakkan di atas tempat budidaya ikan patin. Ada juga yang mengnajurkan agar jaring yang dipasang tersebut berjumlah dua, yang satu lagi dipasang agar diluar jaring yang terlah dipasang. Dengan begitu, burung bahkan tidak bisa masuk di area tempat ikan patin berada sekaligus ikan patin memiliki kemungkinan kecil untuk melompat keluar.

Kolam-Kolam Untuk Budidaya Ikan Patin

Kolam-Kolam Untuk Budidaya Ikan Patin

Urbanina.com – Budidaya ikan patin membutuhkan sarana yang tepat untuk memperlancar budidaya itu sendiri. Seperti pada budidaya jenis ikan lainnya, sarana yang tepat untuk budidaya ikan patin adalah kolam. Dalam bahasa budidaya, sarana budidaya ini bisa disebut dengan media budidaya. Sehingga, media budidaya yang digunakan untuk budidaya ikan patin adalah berupa kolam. Ada setidaknya tiga jenis kolam yang dibutuhkan untuk dapat membudidayakan ikan patin ini. Kolam-kolam tersebut memiliki peran dan fungsinya tersendiri dalam mendukung lancarnya proses budidaya ikan patin. Ketiga kolam ini dikelompokkan Urbanina berdasar prinsip kerjanya, sehingga masing-masing pembudidaya dapat mengkreasikan kolam yang sesuai kehendaknya dengan berdasar pada ketiga jenis prinsip kolam untuk budidaya ikan patin ini.

kolam untuk budidaya ikan patin

Pengelompokan kolam untuk budidaya ikan patin berikut ini dapat diaplikasikan oleh siapapun yang ingin melakukan budidaya ikan patin. Langsung saja, berikut adalah tiga jenis kolam untuk budidaya ikan patin.

  1. Kolam pemeliharaan induk

Sesuai dengan judulnya, kolam yang pertama ini adalah kolam yang memiliki peran atau fungsi sebagai tempat untuk memelihara induk ikan patin. Kolam pemeliharaan induk ini dibangun disesuaikan dengan jumlah induk dan intensitas pengelolaannya. Untuk bentuk kolam, sebaiknya berbentuk persegi panjang. Kolam ini dapat dibuat dalam bentuk kolam semen maupun kolam tanah. Jika memilih kolam tanah, disarankan untuk melapisi dinding kolam menggunakan anyaman bambu. Serta dilengkapi dengan pintu masuk air yang terbuat dari peralon, dan pintu keluar sebaiknya berbentuk monik.

Pemeliharaan yang disesuaikan dengan intensitas dapat dicontohkan sebagai berikut. Apabila ingin memelihara induk ikan patin sebanyak 100 kg, maka dibutuhkan kolam dengan luas 500 bila hanya mengandalkan pakan alami dan dedak. Namun, apabila 100 kg ekor induk ikan patin tersebut dipelihara dengan mengandalkan pakan pelet, maka luas kolam yang dibutuhkan adalah 150-200 meter persegi saja.

  1. Kolam pemijahan

Untuk dapat membangun kolam pemijahan, dapat menggunakan pedoman sebagai berikut. Setiap 1 ekor induk dengan berat 3 kg memerlukan kolam dengan luas 18 meter persegi dengan 18 ijuk atau kakaban. Jadi, pembuatan kolam pemijahan ini juga bisa disesuaikan dengan jumlah induk ikan patil yang akan dipijahkan. Sesuai judulnya, kolam ini difungsikan untuk tempat pemijahan induk ikan patin. Selain untuk tempat pemijahan, kolam pemijahan sering kali sekalian digunakan untuk tempat penetasan telur yang dihasilkan induk betina. Ketika digunakan untuk penetasan, disarankan agar air yang masuk ke kolam dapat menyebar ke daerah yang ada telurnya.

Untuk struktur konstruksi kolam pemijahan ini hampir mirip dengan konstruksi kolam pemeliharaan induk. Dapat menggunakan model kolam semen maupun kolam tanah sesuai dengan keinginan pembudidaya. Konstruksi dasar kolam disarankan agar dibuat miring ke pintu pembuangan air, dengan tujuan agar suatu saat kolam daat dikeringkan. Untuk membuat pintu pemasukan dan pembuangan air dapat menggunakan peralon, sedangkan untuk pintu pembuangan selain menggunakan peralon, bisa juga menggunakan model pintu monik.

  1. Kolam pendederan

Kolam untuk budidaya ikan patin yang terakhir adalah kolam pendederan, yang berfungsi sebagai tempat untuk memelihara benih yang berasasl dari penetasan agar mencapai ukuran tertentu. Konstruksi kolam pendederan agak berbeda dari kolam pemijahan maupun kolam induk. Kolam pendederan ini berbentuk persegi, dengan bagian tengahnya dibangun kemalir(saluran dasar), serta didekat pintu dibangun kubangan. Kolam pendederan juga memiliki beberapa kolam dengan ukuran kolam pendederan pertama adalah 250-500 meter persegi, dan pendederan lanjutan berukuran 500-1000 meter persegi. kemalir yang dibangun memiliki fungsi untuk berkumpulnya benih ketika panen, sedangkan kubangan difungsikan agar lebih mudah dalam penangkapan benih.

Dua Teknik Budidaya Ikan Patin Yang Harus Diketahui

Dua Teknik Budidaya Ikan Patin Yang Harus Diketahui

Urbanina.com – Ikan patin adalah jenis ikan yang memiliki potensi dapat menguntungkan jika dibudidayakan dengan baik. Harga jual di pasar juga relatif tinggi jika dibandingkan dengan jenis ikan lainnya. Selaini itu, berbagai kreasi menu olahan dapat dibuat dengan menggunakan bahan pokok berupa ikan patin. Berbagai menu olahan ikan patin tersebut telah meninggalkan rasa di lidah yang tentu disukai para konsumen. Namun, untuk memenuhi kebutuhan konsumen tersebut tidak bisa hanya mengandalkan hasil dari para nelayan saja. Seperti yang kami sebutkan tadi bahwa usaha membudidayakan ikan patin memiliki potensi yang bagus, dan salah satunya adalah untuk memenuhi kebutuhan pasar yang meningkat ini. Maka dari itu, kali ini Urbanina akan membahas tentang teknik budidaya ikan patin yang pembudidaya harus tahu. Sehingga, pembudidaya akan lebih mudah dalam memeliharanya dan juga akan mampu menghasilkan panen yang lebih berkualitas.

teknik budidaya ikan patin

Bila dilihat secara garis besar, hanya terdapat dua teknik saja untuk membudidayakan ikan patin. Kedua teknik budidaya ikan patin tersebut adalah teknik pembenihan dan teknik pemeliharaan. Namun, untuk dapat melalui dua teknik tersebut juga diperlukan beberapa teknik yang tepat agar dapat berjalan dengan lancar. Bagi pemula yang belum pernah melakukan budidaya, tentu masih asing dengan dua teknik yang bersifat dasar tersebut. Hal ini dapat dimaklumi karena mungkin orang masih terbiasa untuk menangkap ikan patin di sungai, situ, ataupun waduk untuk memenuhi kebutuhan ikan patin.

Terlebih dahulu kita memperkenalkan tentang upaya teknik pembenihan ikan patin. Pembenihan termasuk teknik budidaya ikan patin yang dilakukan sebelum melakukan teknik pembesaran. Sehingga, kedua teknik ini sebenarnya adalah upaya yang dilakukan pembudidaya untuk melalui proses budidaya ikan patin dari awal hingga akhir. Dan dengan mengerti dua teknik budidaya ikan patin ini, proses budidaya akan lebih mudah untuk dilakukan sehingga menghasilkan panen yang lebih berkualitas.

Pembenihan adalah proses yang dilakukan pembudidaya agar mendapatkan benih ikan patin yang baik. Ada beberap cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan benih ikan patin ini. Cara yang pertama dapat ditempuh dengan menangkap benih ikan patin di daerah yang menjadi tempat hidup ikan patin. Untuk menangkap benih di perairan dapat dilakukan dengan menggunakan alat tangkap jala atau jaring. Biasanya, waktu yang tepat unuk menangkap benih ikan patin adalah disaat menjelang musim kemarau di pagi hari. Sedangkan cara yang kedua untuk mendapatkan benih adalah dengan membeli benih ikan patin. Dengan membeli benih, pembudidaya tidak perlu lagi susah-susah menangkap benih di sungai. Untuk merawat benih yang dibeli, perlu waktu 2 pekan merawat di dalam suatu wadah yang terjaga kebersihannya, dan tidak terkena pancaran sinar matahari langsung.

Selain dua cara diatas, pembudidaya juga dapat mendapatkan benih dengan melakukan pemijahan terhadap induk ikan patin di kolam milik sendiri. Dengan memijahkan induk ikan patin, pembudidaya tidak perlu lagi susah-susah mencari benih di sungai serta tidak perlu lagi membayarkan uang ke penjual benih ikan patin.

Teknik budidaya ikan patin yang kedua adalah teknik pembesaran. Karena termasuk didalam rangkain proses budidaya, pembesaran dilakukan setelah proses pembenihan selesai. secara garis besar, pembesaran dilakukan untukmembesarkan benih ikan patin yang telah disiapkan agar dapat dipanen lalu dijual di pasar sehingga proses budidaya dapat terselesaikan. Itulah dua teknik untuk membudidayakan ikan patin yang harus diketahui secara garis besar. Untuk mengetahui teknik dan proses pembenihan dan pembesaran ikan patin secara detil, kami akan membahasnya di artikel berikutnya.