Ternak belut di kolam terpal

Ternak belut di kolam terpal

Urbanina.com – Ternak belut di kolam terpal adalah salah satu ide brilian apabila ide tersebut dapat dilaksanakan dengan baik oleh seseorang. Budidaya atau ternak belut sendiri merupakan salah satu usaha ternak yang sudah dilakukan oleh beberapa peternak yang ada di sebagian wilayah di Indonesia. Ternak belut yang mereka lakukan tersebut berbanding lurus dengan kebutuhan konsumen akan daging ikan yang nampak seperti ular karena bentuknya yang memanjang ini. Hal ini tidak lepas dari perkembangan industri menu olahan belut yang sudah mulai bervariasi hingga saat ini. Seperti yang disebutkan diatas, bahwa membudidayakan belut menggunakan kolam terpal dapat menjadi salah satu alternatif untuk dilakukan. Dan berikut ini adalah cara yang dapat dilakukan untuk memulai budidaya belut di kolam terpal tersebut.

ternak belut di kolam terpal

Membuat kolam terpal

Langkah pertama yang perlu anda lakukan untuk memulai ternak belut di kolam terpal adalah dengan membuat kolam terpal itu sendiri. Membuat kolam terpal dapat andal lakukan dengan mudah apabila mengikuti prosedur yang telah ditentukan sebagai berikut.

  1. Anda dapat memulai dengan menggali tanah yang telah siap untuk dijadikan lahan untuk kolam terpal.
  2. Setelah itu, galian tersebut perlu anda diamkan sementara selama 4-5 hari.
  3. Baru kemudian anda dapat memulai memasang terpal sehingga sedikit lagi kolam akan selesai dibuat. Untuk menguatkan terpal yang terpasang, anda dapat memanfaatkan bambu yang dipasang disekeliling kolam.
  4. Kolam hampir selesai disiapkan. Untuk menyelesaikan persiapan kolam terpal tersebut, anda cukup mengisi kolam tersebut dengan media tanah liat dengan tebal 2-3 cm. Lalu, dilanjutkan dengan mengisi media air dengan kedalaman 20-30 cm.

Memilih bibit

Prosedur yang tidak boleh dilupakan ketika ternak belut di kolam terpal adalah memilih bibit. Bibit atau benih ikan belut dapat dengan mudah didapatkan di penjual bibit terdekat. Bibit yang baik dapat anda beli dengan memperhatikan terlebih dahulu cirri-ciri fisik calon bibit yang akan anda beli. Beberapa cirri-ciri utama bibit yang baik adalah bibit yang terhindar dari hama, memiliki gerakan yang lincah, serta memiliki warna yang cerah dengan kulit yang licin ketika dipegang.

Setelah mendapatkan bibit yang baik, anda dapat menebarkan bibit tersebut kedalam kolam terpal dengan hati-hati. Benih yang ditebarkan dengan kasar dikhawatirkan akan mengalami stess, sehingga pertumbuhannya dapat terhambat.

Pemeliharaan di kolam terpal

Langkah selanjutnya dalam ternak belut di kolam terpal adalah langkah pemeliharaan belut. Untuk pemeliharaan yang umum, biasanya dilakukan dengan memberikan pakan berupa bekatul, limbah ikan, debok pisang, dan lainnya. Pemberian pakan tersebut juga tidak harus dilakukan setiap hari. Sedangkan jika ingin mempercepat pertumbuhan belut, perlu dilakukan pemeliharaan khusus yaitu dengan secara konsisten dan teratur memberikan nutrisi EMP4.

Pemanenan di kolam terpal

Ternak belut di kolam terpal dapat menghasilkan panen yang baik setelah masa pemeliharaan selama 5-6 bulan. Namun, masa panen belut ini juga tergantung pada tingkat pemeliharaan yang dilakukan oleh peternak atau pembudidaya itu sendiri. Bukan tidak mungkin karena pemeliharaan yang kurang intensif, belut baru akan dapat dipanen lebih lama dari 6 bulan masa pemeliharaan.

Sejarah Budidaya Belut Di Indonesia

Sejarah Budidaya Belut Di Indonesia

Urbanina.com – Berbicara mengenai sejarah budidaya belut di Indonesia menjadi menarik karena secara tidak langsung kita membicarakan tentang perkembangan budidaya belut tersebut. Sejak kapan masyarakat Indonesia memiliki mata pencaharian sebagai pembudidaya? Bagaimana mereka mendapatkan keuntungan dari budidaya belut yang mereka lakukan tersebut? Hal ini tentu akan dapat dijawab dengan mengetahui sejarah perkembangan budidaya belut di Indonesia tersebut. Oleh karena itu, kali ini Urbanina akan membahas tentang perkembangan budidaya belut yang ada di Indonesia pada artikel ini.

sejarah budidaya belut di indonesia

Sejarah budidaya belut di Indonesia dapat memberikan inspirasi yang baru bagi mereka yang baru pertama kali mendengar kisah sejarah tersebut. Sejarah budidaya belut di Indonesia tersebut dimulai pada tahun 1997. Di tahun 1997 tersebut, menjadi salah saksi bahwa budidaya belut mulai booming di tanah air. Dengan kata lain, budidaya belut ini dimulai oleh beberapa orang, dan dengan cepat banyak orang lain yang juga mengikuti langkah beberapa orang tersebut untuk membudidayakan jenis ikan yang bernama belut. Lalu, kenapa tiba-tiba terjadi booming budidaya belut di tahun tersebut, apa alasannya?

Untuk mengetahui alasannya, dapat dilihat dari sejarah budidaya belut di Indonesia. Yang menjadi alasan utama mengapa terjadi booming budidaya belut pada waktu itu adalah karena adanya krisis moneter yang terjadi di Indonesia. Krisis moneter tersebut menjadi seolah seperti pukulan berat yang mendorong banyak orang untuk bergerak lebih cerdas agar tetap dapat bertahan hidup dan mendapatkan uang meskipun sedang dilanda krisis moneter tersebut. Nah, muncullah gagasan untuk membudidayakan belut. Waktu itu, banyak orang yang meyakini bahwa budidaya belut adalah salah satu cara yang dapat diusahakan untuk dapat memperoleh banyak keuntungan fiannsial, sehingga dapat menjadi solusi ditengah-tengah terjadinya krisis moneter.

Semakin hari semakin banyak orang yang tertarik untuk membudidayakan belut. Banyak juga sarana pendukung budidaya yang mulai bermunculan seperti halnya pelatihan maupun seminar yang membahas tentang budidaya belut.

Patut disayangkan, setelah banyak orang mulai mempraktekan untuk membudidayakan belut, rupanya hasil yang mereka tidak sebanding dengan usaha yang telah mereka kerjakan selama itu. Sebagian besar dari mereka dapat dikatakan gagal dalam membudidayakan belut. Kegagalan mereka tersebut tidak lepas dari berbagai masalah yang datang secara tiba-tiba ketika budidaya belut tersebut mereka praktekan. Berbagai masalah yang menggagalkan usaha mereka waktu itu adalah berupa permasalahan pada pakan, benih, media, hingga berupa kurangnya informasi yang lengkap tentang cara budidaya ikan belut tersebut.

Sejarah budidaya belut di Indonesia tidak hanya sampai disitu. Kegagalan sebagaian besar orang yang membudidayakan belut waktu itu tentu menjadi pelajaran yang berharga. Adanya berbagai permasalahan yang tidak teratasi dengan baik menjadi salah satu pelajaran penting bagi petani atau peternak belut dimasa mendatang, agar lebih kritis terhadap berbagai permasalahan yang muncul ketika membudidayakan belut.

Pengendalian Terhadap Hama Ikan Belut Budidaya

Pengendalian Terhadap Hama Ikan Belut Budidaya

Urbanina.com – Budidaya ikan belut memang mendapat renspin yang positif dari konsumen pecinta daging belut. Tidak sedikit juga menu olahan yang terbuat dari ikan belut ini, seperti belut goreng, belut bakar, belut sambalado dan lain-lain. Konsumen yang menyukai menu olahan belut akan sangat senang ketika belut yang disukainya dapat dibeli dengan mudah di pasar tanpa harus repot-repot berburu belut di sawah yang becek. Hal ini lah yang menjadi salah satu inspirasi bagi banyak pembudidaya dalam menekuni usaha budidayanya ini. Namun, meski budidaya yang mereka geluti telah dilakukan dengan tekun, bukan berarti proses budidayanya berjalan dengan mulus. Salah satu hal yang menjadi penghambat budidaya salah satunya adalah serangan hama, dan perlu dilakukan pengendalian terhadap hama ikan belut agar budidaya tetap dapat berjalan dengan mulus.

pengendalian terhadap hama ikan belut

Kali ini, Urbanina akan membahas mengenai pengendalian terhadap hama ikan belut ini. Hama ikan belut yang menyerang memang dapat membuat pertumbuhan ikan belut menjadi terhambat, sehingga usaha budidaya juga otomatis akan terhambat juga. Kekhawatiran ini tentu tidak boleh menjadi suatu alasan bagi pembudidaya untuk berhenti menjadi pembudidaya ikan belut. Karena jika ditangani dengan benar, kerugian yang diakibatkan oleh  hama ikan belut ini akan dapat diatasi sehingga proses budidaya akan tetap bisa berjalan normal.

Untuk dapat melakukan pengendalian terhadap hama ikan belut, perlu terlebih dahulu mengetahui jenis hama apa saja yang memiliki potensi untuk mengacaukan kehidupan ikan belut ini. Definisi dari hama ikan belut adalah hewan apa saja yang memiliki sifat atau perilaku mengganggu atau menyakiti ikan belut sehingga perkembangan kehidupan ikan belut terganggu. Sehingga, hewan apa saja yang mengancam pertumbuhan ikan belut dapat dikatakan hama ikan belut. Ada dua macam hama ikan belut yang dibedakan dari tempat hama tersebut menyerang ikan belut, yaitu sebagai berikut.

Ketika belut hidup di habitat aslinya, belut biasa diserang oleh beberapa hewan berikut ini: berang-berang, katak, ular, serangga, burung, ikan gabus dan musang air. Ikan belut dapat terganggu kehidupannya hingga nyawanya melayang dikarenakan beragam hewan diatas. Hal ini tentu dikarenakan oleh rantai makanan yang ada di ekosistem ini. Namun ketika ikan belut ini dibudidayakan, hama atau hewan yang biasa menyerang ikan belut antara lain adalah katak dan kucing. Katak dan kucing yang menyerang ikan belut ini banyak ditemui pada budidaya ikan belut yang dilakukan di daerah perkotaan.

Demi melangsungkan proses budidaya yang lancar, maka hama yang menyerang ikan belut ini harus diberantas. Dan tuga memberantas hama in menjadi tuga pembudidaya itu sendiri. Cara yang dibutuhkan untuk mengendalikan hama ini pun tidak terlalu sulit. Kami menyebut upaya pengendalian terhadap hama ikan belut ini dengan nama pemeliharaan intensif. Karena, dengan pemeliharaan intensif ini dapat mengendalikan hama yang menyerang. Dengan pemeliharaan intensif, maka setiap kali ditemukan hama yang memasuki kolam, pembudidaya harus segera membuang hama tersebut sejauh-jauhnya. Dan bila perlu, disekitar kolam belut ini diberi pagar pembatas agar hama yang berpotensi menyerang ikan belut tidak dapat masuk ke kolam.

Hama yang mengancam kehidupan ikan belut tidak hanya hama yang kasat mata seperti yang telah disebutkan diatas, namun organisme kecil seperti virus, bakteri, jamur dan protozoa adalah beberapa mickroorganisme yang dapat menyebabkan ikan belut yang dipelihara mengidap berbagai penyakit. Untuk itu, agar ikan belut yang dipelihara kebal terhadap serangan mikroorganisme ini, perlu diakukan vaksinasi terhadap ikan belut yang dipelihara. Vaksinasi ini juga dapat disebut dengan salah satu cara untuk melakukan pemeliharaan intensif, sehingga pemeliharaan intensif adalah salah satu solusi cerdas dalam mengatasi hama ikan belut.

Tips Untuk Pembesaran Ikan Belut Yang Dibudidayakan

Tips Untuk Pembesaran Ikan Belut Yang Dibudidayakan

Urbanina.com – Ikan belut yang telah melalui tahap pendederan, kemudian akan melalui tahapan budidaya yang selanjutnya. Tahapan selanjutnya untuk ikan belut ini adalah tahap pembesaran ikan belut. Seperti yang terjadi di banyak pembudidaya, bahwa tahap pembesaran merupakan salah satu tahapan yang harus dilewati dengan cermat agar nantinya didapat hasil panen yang bagus baik untuk konsumen maupun untuk pembudidaya itu sendiri. Konsumen tentu menginginkan belut yang dijual adalah belut yang memiliki ukuran standar serta terbebas dari penyakit sehingga dagingnya enak. Dan pembudiday harus melakukan upaya pembesaran ikan belut dengan cermat agar menghasilkan belut yang berkualitas tersebut.

pembesaran ikan belut

Kali ini, Urbanina akan membahas tentang bagaimana melakukan budidaya pembesaran ikan belut ini agar dapat menghasilkan hasil panen yang berkualitas dan disukai konsumen. Untuk dapat melakukan upaya pembesaran ini, tentu persiapan peralatan dan media untuk pembesaran ikan belut telah dipersiapkan terlebih dahulu. Untuk mengingatkan, media dasar kolam budidaya belut ini harus terbuat dari bahan organik agar dapat menjadi air yang kualitasnya setara dengan kualitas air di sawah atau habitat asli ikan belut ini. Setelah semua siap, maka proses pembesaran ikan belut juga telah siap untuk dilaksanakan.

Langkah paling pertama untuk pembesaran belut ini tentu terletak pada menebarkan ikan ke kolam pembesaran dengan kepadatan populasi ikan pembesaran tahap pertama adalah 100 ekor per meter persegi, dan untuk tahap kedua dengan kepadatan 50 ekor per meter persegi. Ikan belut dengan ruang gerak yang bebas akan memicu pertumbuhan yang baik. sebalinya apabila kepadatan populasi pembesaran ini terlalu tinggi, dapat mengakibatkan ketidak merataan pertumbuhan atau dengan kata lain pertumbuhan belut akan terhambat.

Setelah benih belut yang siap dibesarkan ditaburkan ke kolam, maka perlu dilakukan pemupukan secukupnya. Pemupukan ini sebenarnya sudah dilakukan ketika kolam pertama kali dilakukan pengisian air. Air bersih yang telah dimasukkan ke kolam untuk pertama kalinya ini akan memicu adanya pemupukan. Jerami, sekam padi, dan pupuk kandang yang telah disusun ketika mempersiapkan media dasarkolam akan bereaksi setelah waktu tertentu setelah pemberian air kolam pertama kali. Jerami tersebut lama-kelamaan akan lapuk, sehingga akan membentuk pelumpuran yang subur. Kesuburan ini juga tidak lepas dari peran pupu kandang sebagai salah satu bahan organik utama.

Langkah pembesaran yang kedua adalah dengan pemberian pakan tambahan untuk belut yang dibudidayakan. Seperti yang diketahui oleh banyak pembudidaya, bahwa belut memerlukan pakan utama yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan gizi untuk pertumbuhannya. Namun, pemberian pakan tambahan rupanya dapat memberi pengaruh yang baik untuk memperlancar pertumbuhan ikan belut yang dibudidayakan ini. Untuk memberikan pakan tambahan, dapat diupayakan dengan memberi pakan belut berupa kecoa, cacing, dan ulat besar atau belatung yang dapat diberikan kepada belut setiap 10 hari.

Langkah yang ketiga untuk pembesaran belut adalah dengan memberikan vaksinasi. Seperti pada peternakan pada umumnya, vaksinasi pada budidaya ikan belut ini dimaksudkan agar ikan belut yang dipelihara dapat terlingung dari ebrbagai penyakit yang menyerang melalui kekebalan tubuh ikan yang lemah. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa jenis bakteri atau virus ukuran kecil yang berpontensi menyerang ikan belut ini.

Langkah yang keempat dalam pembesaran belut dapat dilakukan dengan upaya pemeliharaan kolam atau yang digunakan untuk budidaya. Pembudidaya harus dapat memastikan bahwa kolam terbebas dari bahan-bahan beracun yang dapat mencemari kolam, serta aman dari gangguan lain yang datang dari sekitar kolam.

Habitat Asli Belut Sebagai Acuan Kolam Budidaya Belut

Habitat Asli Belut Sebagai Acuan Kolam Budidaya Belut

Urbanina.com – Ikan Belut merupakan salah satu hewan yang dapat dibudidayakn karena tidak sedikit konsumen belut yang menyebar di Indonesia. Tak hanya di Indonesia, di luar negeri seperti Jepang, Taiwan, Hongkong maupun Malaysia, ikan yang memiliki tubuh panjang ini banyak dibudidayakan. Negara-negara tersebut telah dikenal sebagai negara yang menjadi sentra perikanan belut ini. Di benua eropa, yang menjadi sentra perikanan belut adalah negara Perancis. Belut yang dibudidayakan tentu akan hidup di kolam pemeliharaan, bukan di habitata aslinya. Habitat asli belut ini adalah di perairan alami seperti sungai, danau alami, sawah dan juga rawa.

habitat asli belut

Habitat asli belut ini rupanya memegang peran penting dalam upaya pembudidayaan ikan belut. Mengapa? Karena ikan belut adalah hewan air yang tentunya hanya dapat hidup dengan normal di habitat yang memiliki kualitas air yang sama denga air di habitat asli belut ini. Dengan begitu, pembudidaya dapat menyiapkan tempat hidup belut yang dibudidayanya agar sesuai dengan habitat asli ikan belut seperti sungai, sawah, ataupun rawa. Jika kolam atau tempat peemeliharaan belut tidak sesuai dengan habitat aslinya, maka bukan tidak mungkin pertumbuhan belut akan terhambat sehingga tumbuh dengan tidak normal.

Dengan berpedoman pada habitat asli belut, kolam budidaya ikan belut dapat dikondisikan agar dapat menyamai kualitas habitat asli ikan belut ini. Adapun beberapa kondisi yang dapat diupayakan agar belut yang dibudidaya dapat tumbuh normal seperti ketika hidup di habitat aslinya. Berikut ini 4 hal yang dapat dikondisikan pada kolam budidaya.

Pertama, kolam budidaya dapat diukur melalui metode klimatologis. Adapun sebuah hasil penelitian yang menyebutkan bahwa ikan belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik. Oleh karena hukum geograffis diatas, kolam budidaya ikan belut dapat dibangun di tanah dengan ketinggian berapa saja, baik itu dataran tinggi ataupun dataran rendah. Dan hukum yang menyangkut iklim habitat belut yang tidak spesifik, bahwa kolam tidak memerlukan pengondisian kelembaban ataupun curah hujan. Dapat juga dikatakan bahwa belut dapat hidup di kolam dengan segala kondisi kelembaban kolam.

Kedua, kualitas air kolam harus disetarakan dengan kualitas habitat asli ikan belut ini. Ikan belut yang hidup di habitat aslinya, mendapatkan kualitas yang bersih dan tidak tercampuri limbah yang memiliki racun. Sehingga, akan sulit sekali ditemukan belut di sungai yang sudah tercemar limbah pabrik yang beracun. Oleh karena itu, kualitas air kolam belut harus memilik beberapa kriteria berikut ini agar dapat menumbuhkan belut dengan baik. Yaitu, air yang bersih, tidak terlalu keruh, dan tidak tercemar zat kimia beracun. Mungkin saja dasar kolam dapat mempengaruhi kualitas air, sehingga pembudidaya diharapkan dapat memastikan bahwa dasar kolam belut mereka adalah aman dari zat-zat kimia beracun.

Ketiga, meskipun kelembaban kolam tidak terlalu spesifik namun pertumbuhan yang opimal memerlukan kondisi suhu yang optimal juga. Menurut penelitian, suhu yang dapat mengoptimalkan pertumbuhan belut adalah suhu yagn berkisar antara 25-30% derajat C.

Keempat, memicu pada prinsip air yang baik untuk pertumbuhan. Bahwa air yang baik untuk pertumbuhan ikan belut adalah air yang bersih dan memiliki banyak kandungan oksigen. Hal ini diutamakan untuk benih belut yang masih kecil dengan ukuran 1-2 cm. Sehingga, air kolam harus diperhatikan untuk benih ikan belut ini. Namun, ketika sudah menjadi belut dewasa, belut akan tetap dapat hidup di air yang keruh.

Cara Praktis Menyiapkan Peralatan Budidaya Belut

Cara Praktis Menyiapkan Peralatan Budidaya Belut

Urbanina.com – Budidaya ikan belut sekarang ini memiliki prospek yang baik setelah adanya peluang yang tebuka di pasar. Permintaan pasar yang terus meningkat adalah salah satu faktor yang menjadi tanda baiknya prospek budidaya ikan belut ini. Pembudidaya perlu melakukan budidaya dengan sebaik-baiknya agar dapat menghasilkan ikan belut yang berkualitas dan disukai oleh konsumen. Untuk membudidayakan ikan belut ini, pertama-tama perlu dilakukan persiapan peralatan budidaya belut yang mencukupi.

peralatan budidaya belut

Kali ini, Urbanina akan membahas tentang bagaimana menyiapkan peralatan budidaya belut yang dapat mencukupi kebutuhan yang diperlukan selama budidaya ini. Peralatan budidaya belut yang kami bahas ini setidaknya akan dapat menjadi referensi bagi pembudidaya dalam melakukan usaha yang ia geluti. Saat ini, negara yang menjadi sentra perikanan belut ini berada di negara-negara seperti Taiwan, Jepang, Hongkong, Malaysia dan Perancis. Tentu dengan peralatan budidaya belut yang sudah maju dan sangat mencukupi. Namun, untuk skala budidaya, tidak cukuplah dengan peralatan yang dapat dirasa cukup untuk membesarkan belut skala budidaya saja.

Berikut ini beberapa peralatan yang perlu disiapkan untuk memenuhi kebutuhan ketika membudidayakan ikan belut ini. Pertama, perlu dilakukan penyiapan kolam untuk budidaya ikan belut ini. Kolam yang dipersiapkan untuk budidaya ini pun perlu diperhatikan dengan cermat. Ada beberapa macam kolam yang perlu disiapkan dengan beberapa macam fungsi juga. Pertama ada kolam pemijahan atau kolam induk, yang difungsikan untuk induk ikan belut yang akan dipijahkan.

Kedua, ada kolam pendederan yang difungsikan untuk perawatan benih belut yang masih kecil berukuran 1-2 cm. Ketiga, ada kolam yang difungsikan untuk belut remaja, yaitu belut yang berukuran 3-5 cm. Dan keempat, ada kolam belut konsumsi yang difungsikan untuk membesarkan belut sehingga layak untuk dikonsumsi. Kolam belut konsumsi ini sendiri dibagi menjadi dua jenis, yaitu untuk pemeliharaan sampai belut berukuran 15-20 cm, dan untuk pemeliharaan dari ikan belut ukuran 15-20 cm sampai belut berukuran 30-40 cm.

Untuk bangunan jenis-jenis kolam diatas dapat dibangun dengan jenis kolam yang sama, dan yang membedakan hanyalah ukurannya saja. Berikut beberapa ukuran yang menjadi acuan pembuatan kolam ikan belut. Untuk ukuran kolam induk atau kolam pemijahan, dapat dibuat dengan kepadatan ikan 6 ekor per meter persegi. Lalu, untuk ukuran kolam pendederan dapat dibuat dengan kepadatan 500 ekor per meter persegi. Ukuran kolam remaja dapat dibuat dengan kepadatan 250 ekor per meter persegi. Ukuran belut konsumsi tahap pertama ini dapat dibuat dengan kepadatan 100 ekor per meter persegi. Dan ukuran belut konsumsi tahap kedua dapat dibuat dengan ukuran 50 ekor per meter persegi.

Jenis kolam yang dapat digunakan untuk budidaya ikan belut ini dapat dibuat dengan bahan bak dinding tembok atau disemen. Namun, dasar kolam ikan belut ini tidak perlu diplester seperti kolam ikan pada umumnya. Setelah kolam selesai dipersiapkan, perlu juga dipersiapkan peralatan lainnya yang juga tidak kalah penting. Adapun peralatan lainnya adalah sumber air yang selalu sedia dan siap, alat penangkapan, ember plastik dan peralatn lainnya, dan juga media dasar kolam.

Untuk menyiapkan media dasar kolam, perlu disiapkan bahan-bahan organik berupa pupuk kandang, sekam padi dan jerami padi. Ketiga bahan organik tersebut kemudian disusun dengan susunan sebagia berikut. Pertama, kolam yang masihk kosong dilapisi dengan sekam padi dengan tebal 10 cm. Lalu, diatasnnya diberi lapisan pupuk kandang setebal 10 cm, dan diatasnya lagi diberi ikatan-ikatan jerami kering juga 10 cm. Setelah itu, beri kolam dengan air setinggi 50 cm dari dasar kolam(bahan organik + air). Diamkan beberapa saat hingga membentuk seperti lumpur sawah. Itulah beberapa peralatan budidaya belut yang perlu dipersiapkan agar dapat segera memasukkan belut kedalam kolam.

Bagaimana Prosedur Menyiapkan Bibit Belut?

Bagaimana Prosedur Menyiapkan Bibit Belut?

Urbanina.com – Ikan belut yang dibudidaya sudah berkembang di Indonesia sejak tahun 1979. Belut yang dibudidaya rupanya menjadi salah satu usaha yang dapat menjadi bisnis yang menguntungkan. Setelah sejak tahun tersebut dilakukan budidaya, rupanya tidak banyak yang mengikuti pembudidaya untuk ikut membudidayakannya. Sehingga, pembudidaya dapat menjadikan hasil budidaya untuk komoditas ekspor. Tentu belut dengan kualitas yang baik yang dapat memenuhi kebutuhan komoditas ekspor ini. Salah satu yang mempengaruhi kualitas belut ini salah satunya adalah terdapat pada proses menyiapkan bibit belut.

menyiapkan bibit belut

Dan kali ini, Urbanina akan membahas bagaimana prosedur untuk menyiapkan bibit belut. Hal ini dimaksudkan agar bibit belut yang dipersiapkan dapat hidup dengan sehat sehingga dapat dilanjutkan untuk dibesarkan melalui budidaya ikan belut. Jika proses menyiapkan bibit belut in dapat dilakukan sesuai prosedur yang benar, maka ketika sudah besar nantinya konsumen akan dapat menikmati belut yang berkualitas. Seperti yang diketahui, bahwa belut memiliki manfaat yang baik bagi tubuh yaitu sebagai sumber protein hewani.

Untuk meyiapkan bibit belut ini pertama-tama harus mengetahui bagaimana ciri-ciri bibit belu yang baik untuk dibesarkan atau dibudidaya. Adapun beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mengenali bibit belut yang baik ini, yaitu yang pertama bibit belut yang baik adalah bibit yang berukuran 5-8 cm. Jika bibit yang berukuran lebih kecil dari ukuran tersebut dibesarkan, dikhawatirkan akan rentan terhadap penyakit sehingga tidak dapat tumbuh dengan normal.

Setelah mengenali bibit belut yang baik, maka dapat dilanjutkan ke langkah berkutnya, yaitu pemilihan bibit. Pembudidaya diharapkan memilih bibit belut yang baik denga ukuran yang telah ditentukan diatas. Untuk memperoleh bibit belut, dapat dilakukan dengan memilih belut yang ada di kolam pembibitan jika punya. Jika tidak punya, pembudidaya dapat memilih bibit belut dengan membeli di pembudidaya yang melakukan usaha pembibitan. Selain dua cara diatas, pembudidaya juga dapat memperoleh bibit belut dengan mencarinya  di sarang-sarang bibit belut yang ada di alam.

Bibit belut yang diperoleh dari membeli di orang yang melakukan pembibitan ini sebenarnya didapat dari pemijahan induk belut yang dia usahakan. Usaha pembibitan ini sebenarnya juga bisa dilakukan oleh siapa saja, namun dengan usaha yang agak berbeda dibanding usaha pembesaran. Adapun usaha pembibitan atau pemijahan ini dilakukan dengan cara membuatkan kolam khusus untuk pemijahan.

Bila pembudidaya ingin mendapatkan bibit sendiri, kolam khusu untuk pemijahan ini diisi dengan 1 induk jantan dan 2 induk betina pada setiap 1 meter persegi. Adapun ukuran induk belut jantan yang baik untuk pemijahan adalah sekitar 40 cm, dan untuk induk belut betina berukuran sekitar 30 cm. Induk belut akan melakukan pemijahan selama 10 hari, lalu menetaskan telur selama 5-10 hari, kemudian dibesarkan hingga 3-5 cm selama 30 hari. Dan setelah itu barulah bibit belut ini layak untuk dibudidaya dengan dibesarkan.

Adapun jika bibit belut yang dipelihara ini masih berusia 1 bulan, harus dipelihara dengan sebaik-baiknya. Perawatan yang dilakukan harus dengan jeli agar tidak banyak bibit belut yang hilang. Selain harus menjaga keutuhan bibit belut ini, lebih baik juga bila kolam yang digunakan untuk memelihara adalah kolam yang airnya mengalir sehingga baik untuk mempercepat pertumbuhan benih. Tentu juga harus menggunakan air yang bersih jika ingin pertumbuhan benih belut menjadi lebih cepat dan sehat. Itulah beberapa hal yang perlu dilakukan dalam upaya menyiapkan bibit belut.